Presiden AS Donald Trump.(X)
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuntut Iran bayar kompensasi atas korban jiwa dan kerusakan akibat bentrok di Timur Tengah. Tuntutan tersebut bakal dibawa ke meja perundingan dan berpotensi semakin mempersulit upaya Washington dan Teheran mencapai kesepakatan damai.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin (10/8), Trump menyebut kompensasi tersebut kudu diberikan kepada family korban nan meninggal maupun mengalami luka parah akibat konflik.
"Sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran untuk semua orang nan telah mereka bunuh dan lukai parah, termasuk family dari mereka nan tewas di USS Cole dan ribuan lainnya nan tewas dalam pertempuran," kata Trump dilansir Anadolu, Selasa (11/8)
Dalam unggahan lainnya, Trump memperluas tuntutannya dengan meminta Iran bertanggung jawab atas kerusakan dan korban jiwa nan terjadi di sejumlah wilayah bentrok di Timur Tengah, termasuk Libanon, Suriah, Yaman, dan Jalur Gaza.
"Selain itu, kompensasi kudu dibayarkan kepada family dari ratusan ribu demonstran tak berdosa nan dibunuh Iran selama 50 tahun terakhir, belum lagi 52 ribu orang nan tewas dalam lima bulan terakhir," lanjut Trump.
Trump menegaskan seluruh tuntutan tersebut bakal dibawa ke meja perundingan dan disampaikan secara tegas kepada pihak Iran. Menurut Trump, tuntutan kompensasi bakal menjadi bagian dari setiap dan semua negosiasi di masa mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika upaya perundingan tenteram antara AS dan Iran tetap menghadapi kebuntuan. Salah satu persoalan utama nan menghalang proses tersebut adalah situasi keamanan di Selat Hormuz nan semakin memanas.
Tuntutan baru dari Trump berpotensi semakin memperumit upaya mencapai kesepakatan. Iran sebelumnya juga mengusulkan tuntutan agar Amerika Serikat bayar reparasi perang sebagai salah satu syarat untuk menghentikan pertempuran.
Konflik berkepanjangan tersebut turut berakibat terhadap perekonomian global. Blokade Iran di Selat Hormuz telah mengganggu jalur pengedaran daya dan mendorong kenaikan nilai bahan bakar minyak.
Situasi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pemerintahan Trump, terutama menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat nan dijadwalkan berjalan pada November mendatang. (Fer/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·