ARTICLE AD BOX
loading...
Khudori - Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI.
Khudori
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI.
Kalau membeli beras di pengecer di pasar tradisional, Anda bakal berhadapan dengan jenis macam beras. Namanya bermacam-macam. Ada nan bermerek, ada nan tidak. nan tidak bermerek biasanya dijual curah. Harganya pun berbeda-beda. Demikian pula kualitasnya. Hal serupa kembali Anda temukan ketika membeli beras di toko kelontong alias warung sebelah rumah. Meskipun jenis macamnya lebih sedikit. Artinya, di pasar itu ada jenis macam beras dengan beragam kualitas dan nilai berbeda-beda.
Di retail modern kondisinya berbeda. Secara umum beras nan dijual di retail modern ada tiga: medium, premium, dan beras khusus. Beras medium relatif susah ditemukan. Kalau pun ada adalah persediaan beras pemerintah (CBP) nan dikelola BULOG. Namanya beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Beras premium dan beras unik tersedia dalam jenis merek. Beras unik ada jenis macam, antara lain beras ketan, beras merah, beras hitam, beras varietas lokal, beras fortifikasi dan beras organik.
Pendek kata, di pasar tersedia beras multikualitas. Mengapa? Ini mengenai preferensi konsumen nan berubah beberapa tahun terakhir. Perubahan terjadi seiring lonjakan urbanisasi, partisipasi kerja wanita di ruang publik, tumbuhnya pendapatan masyarakat, dan menurunnya jumlah masyarakat miskin. Ditambah menjamurnya pasar formal, terutama minimarket, supermarket, dan hipermarket nan mengepung permukiman, di desa dan di kota, telah mempercepat perubahan preferensi tersebut.
Kajian PERHEPI pada 2016 menunjukkan beras telah berubah dari komoditas nan seragam menjadi produk beragam. Keberagaman beras ditentukan oleh atribut nan melekat: bentuk, warna, rasa, jenis, dan merek. Konsumen berpendapatan tinggi ketika memilih beras mempertimbangkan: corak beras/ utuh panjang (62%), warna putih (81%), rasa pulen (76%), dan bermerek (61%). Sebaliknya, konsumen berpendatan rendah lebih memperhatikan warna putih daripada rasa pulen, alias merek dagang.
Untuk mendapatkan beras, konsumen berpendapatan tinggi lebih dominan membeli di minimarket (38%) dan supermarket (33%). Beras nan dibeli dalam bungkusan (86%) dan dalam volume 5 kg (63%). Konsumen berpendapatan tinggi bakal mengurangi jumlah beras nan dibeli jika nilai naik mencapai 22% alias mengganti dengan jenis lain jika nilai naik 16%. Sebaliknya, konsumen berpendapatan rendah bakal mengurangi jumlah pembelian beras jika nilai naik 17% dan mengganti jenis/merek lain jika naik 10%.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·