Urgensi Investasi Keamanan Siber: Dari Teknis ke Meja Direksi

1 jam yang lalu 2

loading...

Dr. Arif Rahman Hakim, Pengamat Keamanan dan Ketahanan Siber. Foto/SIndoNews

Dr. Arif Rahman Hakim
Pengamat Keamanan dan Ketahanan Siber

DI era ketika ruang digital menjadi fondasi utama operasional dan keberlangsungan bisnis, tata kelola keamanan siber sedang mengalami pergeseran paradigma nan fundamental. Selama berdekade-dekade, anggaran keamanan siber dikategorikan sebagai beban biaya teknologi info nan terus membengkak dan sebisa mungkin ditekan. Namun, lanskap ancaman modern, mulai dari ransomware-as-a-service, serangan rantai pasok (supply chain attacks), hingga akibat dekripsi kuantum di masa depan, membuktikan satu hal: keamanan siber bukan lagi urusan teknis unit IT, melainkan investasi upaya wajib (mandatory investment) nan menentukan kelangsungan hidup perusahaan.

Tantangan selanjutnya nan dihadapi sektor industri saat ini bukan terletak pada ketiadaan teknologi pengamanan, melainkan pada lembah komunikasi (communication gap) antara technical ground dan boardroom.

Tim teknis mengekspresikan akibat menggunakan bahasa teknis, seperti vulnerability score, patching management, firewall rules, dan log analysis. Sebaliknya, jejeran Direksi (Board of Directors) dan Komisaris berpikir dalam bahasa akibat bisnis, seperti return on investment (ROI), revenue protection, regulatory liability, dan reputational damage. Ketika dua bahasa ini tidak bertemu, keputusan investasi siber nan strategis kerap tertunda hingga kejadian betul-betul terjadi. Sebagai contoh, keputusan memangkas anggaran pemeliharaan demi efisiensi jangka pendek sering kali berujung fatal ketika sistem kritis upaya nan tidak terperbarui (unpatched) sukses dieksploitasi ransomware, mematikan operasional perusahaan selama berhari-hari dan memicu kerugian finansial hingga miliaran rupiah.

Untuk menjembatani lembah tersebut dan menjadikan keamanan siber sebagai investasi strategis di tingkat eksekutif, industri perlu mengangkat tiga pendekatan utama: (1) kuantifikasi akibat siber ke dalam nilai finansial, (2) memosisikan keamanan siber sebagai business enabler, dan (3) membangun budaya tone at the top.

Selengkapnya