Vale Garap 2 Proyek Smelter Baru, Pasokan Listrik Aman?

  • Whatsapp

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berencana membangun dua fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) baru, yakni proyek smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan smelter feronikel di Bahodopi, Sulawesi Tengah.

Keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/ FID) untuk kedua proyek smelter baru tersebut ditargetkan akan dilakukan pada 2022. Lalu, bagaimana dengan pasokan listriknya? apakah Vale sudah melakukan kesepakatan dengan pemasok listrik atau akan membangun pembangkit listrik baru?

Menjawab hal ini, Direktur Keuangan Vale Bernardus Irmanto kepada CNBC Indonesia mengatakan, terkait kebutuhan listrik dan juga rencana suplainya hingga saat ini masih dikaji perusahaan.


“Terkait kebutuhan listrik dan juga bagaimana suplainya menjadi bagian dari kajian teknis yang saat ini sedang diselesaikan,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (23/06/2021).

Mengenai informasi teknis seperti berapa besar kebutuhan listrik untuk smelter dan dari mana pasokan listrik berasal, dia pun belum berkenan memberikan informasi hingga kajian teknis tersebut rampung.

“Kebutuhan daya nanti saya baru bisa sampaikan setelah kajian teknis selesai. Saya tidak bisa memberikan informasi teknis sampai kajian tersebut diselesaikan,” paparnya.

Lebih lanjut dia mengatakan berbagai opsi tengah dibahas, seperti apakah akan bekerja sama dengan PT PLN (Persero) atau tidak.

“Dari Vale intinya kami mengkaji semua opsi supply energi,” lanjutnya.

Menurutnya, mengenai pasokan kelistrikan ada empat hal yang harus dipenuhi, yakni kecukupan daya, keandalan pasokan, keekonomian harga, dan juga bisa mendukung upaya pengurangan emisi karbon.

“Keempat hal tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain,” ucapnya.

Kepastian pasokan listrik untuk proyek smelter menjadi satu bagian tak terpisahkan dari proyek smelter. Jangan sampai, kejadian yang dialami oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terkait kendala pasokan listrik untuk proyek smelter terulang kembali.

Seperti diketahui, proyek smelter feronikel Antam di Halmahera Timur, Maluku Utara yang seharusnya sudah bisa beroperasi, namun karena terkendala belum rampungnya pembangkit listrik atau bahkan belum ada kepastian pasokan listrik membuat jadwal operasi proyek smelter ini tertunda.

Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memutuskan agar Antam melakukan lelang kembali pengadaan listrik untuk memasok listrik di smelter feronikel di Halmahera Timur ini.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan, kejadian ini merupakan hal yang cukup aneh ketika pembangunan smelter tidak dibarengi dengan pasokan listrik yang akan menggerakkan smelter tersebut. Untuk itu, imbuhnya, penyelesaian smelter ini menjadi salah satu tolak ukur kinerja direksi Antam.

“Sangat aneh bangun smelter tapi listriknya tidak ada,” imbuhnya.

PT PLN (Persero) yang akan memenuhi kebutuhan listrik untuk smelter feronikel di Halmahera Timur milik PT Aneka Tambang Tbk. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril kepada CNBC Indonesia.

Bob mengatakan Antam bakal beli listrik dari PLN untuk tahap menengah dan jangka panjang. Sementara untuk jangka pendek, menurutnya Antam sedang melakukan proses pengadaan.

“Jadi (beli listrik) untuk tahap menengah dan jangka panjang. Saat ini untuk jangka pendek mereka lagi melakukan proses pengadaan,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (05/01/2021).

Lebih lanjut Bob mengatakan, PLN akan mulai memasok listrik smelter feronikel Antam tersebut pada 2026 dengan kapasitas kurang lebih 100 mega watt (MW).

“2026, lebih kurang 100 MW,” paparnya saat ditanya kapan PLN mulai memasok listrik tersebut.

[Gambas:Video CNBC]

(wia)

Pos terkait