Varian Delta Meruyak di Papua, Keterisian RS Hampir Capai Kapasitas

  • Whatsapp

Tingkat keterisian tempat tidur di sejumlah rumah sakit di Papua hampir mencapai kapasitas di tengah lonjakan kasus COVID-19. Para pejabat kesehatan setempat bersiap menghadapi dampak penyebaran varian Delta itu.

Dr Aaron Rumainum, Kepala Unit Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Papua, mengatakan tingkat keterisian tempat tidur di beberapa rumah sakit di Papua mencapai 100% hingga terpaksa menggunakan unit gawat darurat dan tenda untuk merawat pasien COVID-19.

“Kami memiliki masalah yang sama dengan Jawa. Ruang isolasi penuh dan kekurangan oksigen,” katanya kepada Reuters, seraya menambahkan varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India, kini telah terdeteksi di provinsi tersebut.

Penggali kubur mengenakan alat pelindung diri (APD) di area pemakaman yang disediakan pemerintah untuk korban COVID-19, seiring lonjakan kasus di Jayapura, Papua, 20 Juli 2021. (Foto: Antara/Indrayadi TH via REUTERS)


Penggali kubur mengenakan alat pelindung diri (APD) di area pemakaman yang disediakan pemerintah untuk korban COVID-19, seiring lonjakan kasus di Jayapura, Papua, 20 Juli 2021. (Foto: Antara/Indrayadi TH via REUTERS)

Silwanus Sumule, juru bicara Satuan Tugas COVID-19 dan Wakil Direktur Rumah Sakit Umum (RSUD) Jayapura mengatakan tingkat keterisian di tempat tidur mencapai sekitar 57% untuk Provinsi Papua. Namun, di Ibu Kota Jayapura tingkat keterisiannya melebihi 96%.

Silwanus menuturkan saat ini ada 47 orang yang menunggu di koridor karena tidak mendapatkan kamar.

“Mungkin 47 bukan jumlah yang besar untuk daerah-daerah seperti Jawa, tapi di sini (jumlah) yang sangat besar,” katanya. “Kami belum pernah mengalami ini sebelumnya, menempatkan pasien di koridor seperti itu.”

Fasilitas kesehatan Papua, yang terdiri dari Provinsi Papua dan Papua Barat, tidak memadai dan tingkat vaksinasi yang rendah, sehingga sangat rentan terpapar wabah virus corona.

“Sebelum COVID, sudah ada penyakit endemik di Papua yang tidak tertangani dengan baik, seperti malaria dan TBC, ditambah lagi dengan situasi darurat ini,” kata Adriana Elisabeth, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang meneliti Papua.

“Jika pemerintah tidak membatasi mobilitas, sistem perawatan kesehatan pasti akan kolaps.”

Media-media lokal melaporkan pada awal pekan ini, Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan dia sedang mempertimbangkan untuk memblokir akses masuk dan keluar provinsi untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Indonesia telah melaporkan lebih dari 2,9 juta kasus virus corona dan 77.000 kematian sejak awal pandemi. Dengan beban kasus yang semakin cepat dan tingkat kematian yang tinggi, Indonesia kini menjadi pusat wabah di Asia. Pakar kesehatan masyarakat mengatakan jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi kemungkinan beberapa kali lebih tinggi.

Our World in Data melaporkan tingkat kematian di Tanah Air akibat COVID-19 lebih dari tiga kali lipat tingkat dunia pada 20 Juli. [ah/au/ft]

Pos terkait