Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni(MI/Lina Herlina)
WALI Kota Bontang, Neni Moerniaeni, melontarkan pekerjaan rumah besar nan memerlukan uluran tangan korporasi. Hal itu disampaikannya dalam sambutan sebelum pemberian penghargaan TJSLP Award 2025 sebagai apresiasi bagi perusahaan nan telah mendukung pembangunan di Bontang.
Neni membeberkan info mengenai tunggakan BPJS KIS berdikari nan mencapai nomor 16,5 persen dan membujuk perusahaan untuk turun tangan membantu warganya. Termasuk upaya menekan nomor stunting hingga 14% juga tidak lepas dari peran aktif bumi usaha.
Sehingga, Penganugerahan TJSLP Award 2025 tidak hanya menjadi arena seremonial, tetapi juga menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Bontang untuk membujuk perusahaan bekerja-sama menyelesaikan persoalan sosial dan kesehatan nan mendesak.
Neni secara terbuka mengungkapkan tantangan mengenai kepesertaan BPJS KIS dan penanganan stunting.
Menurutnya, saat ini terjadi persoalan bagi penduduk nan terdaftar sebagai peserta BPJS KIS berdikari namun tidak bisa bayar iuran sehingga menunggak. Masalah ini menghalang pencapaian sasaran Universal Health Coverage (UHC) nan semestinya di atas 90 persen.
"Ada persoalan BPJS berdikari nan tidak bisa dibayarkan dan terhutang. Saat ini capaian kita hanya sekitar 16,5%. Ini menjadi persoalan," ungkap Neni.
Ia memastikan pemerintah wilayah bakal segera menyurati perusahaan-perusahaan untuk memberikan support kepada masyarakat nan membutuhkan.
Bantuan tersebut bakal diberikan secara "by name by address" agar tepat sasaran, terutama untuk membantu penduduk nan terkendala iuran BPJS-nya.
"Kami bakal umumkan perusahaan nan memberikan support kepada masyarakat nan membutuhkan. Ini kesempatan kita semua untuk membuktikan komitmen perusahaan di Bontang untuk pembangunan berkelanjutan," tambahnya.
Selain BPJS, rumor stunting juga menjadi perhatian utama. Neni mengungkapkan bahwa berkah partisipasi perusahaan dalam program "Timbang Balik Kesempatan", nomor stunting di Kota Bontang sukses diturunkan secara signifikan dari 19,8% menjadi sekitar 14%. Pemerintah kota sekarang menargetkan nomor stunting satu digit, ialah di bawah 10 persen, apalagi optimis mencapai 8 persen.
"Target pusat 14 persen, dan kita sudah mendahuluinya. Ini salah satunya berkah partisipasi perusahaan. Saya berharap, kita bisa buktikan Bontang adalah kota terbaik di Kalimantan Timur, apalagi di Indonesia, dengan nomor stunting terendah," pungkas. (LN/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·