Warga Palue Andalkan Air Hujan, Penampung Rusak akibat Gempa

3 jam yang lalu 4
Warga Palue Andalkan Air Hujan, Penampung Rusak akibat Gempa Warga Desa Nitunhlea, Palue, Yohanis Riba, 75, dievakuasi dengan helikopter Polri ke Rumah Sakit TC Hillers di Maumere untuk menjalani perawatan. Kedua kaki Yohanis tertimpa material gedung nan roboh saat gempa.(Dok BNPB)

WARGA Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah gempa bumi mengguncang wilayah tersebut. Persoalannya, sarana penampungan air hujan milik penduduk ikut rusak akibat gempa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam penanganan pascagempa di Palue.

"Ternyata masyarakat alias saudara-saudara kita di Pulau Palau itu mengandalkan air hujan untuk kehidupan sehari-hari. Kebetulan sarana untuk menampung air hujannya rusak, ini juga sedang dalam perbaikan," kata Suharyanto, Senin (24/8).

Selain air, pemerintah terus menyalurkan logistik, permakanan, obat-obatan, serta mendukung transportasi bagi masyarakat Palue, sedangkan sejumlah pasien nan memerlukan perawatan lebih lanjut juga telah dievakuasi keluar pulau. 

Di antaranya, Yohanis Riba, 75, penduduk Desa Nitunhlea, Palue nan dievakuasi dengan helikopter Polri ke Rumah Sakit TC Hillers di Maumere untuk menjalani perawatan. Kedua kaki Yohanis tertimpa material gedung nan roboh saat gempa. 

Menurutnya, saat ini akses menuju wilayah terdampak semakin membaik. Tidak ada lagi jalan nan sepenuhnya terputus akibat longsor alias kerusakan jembatan, meski perbaikan prasarana tetap terus dilakukan. "Namun, tidak pulih seperti sebelum terjadi bencana, tetapi secara fungsional ini semuanya sudah bisa dilalui," jelasnya.

Kerahkan 16 Pesawat

Sementara itu, untuk mempercepat pengedaran bantuan, pemerintah mengerahkan 16 unit pesawat, termasuk helikopter dan pesawat sayap lebar. Dukungan darat juga disiapkan melalui 27 truk di Labuan Bajo, 18 truk di Maumere, serta sekitar 200 sepeda motor.

Untuk pengedaran bantuan, dilakukan berasas kebutuhan masyarakat nan dihimpun secara berjenjang dari tingkat bawah. Di letak nan susah dijangkau kendaraan, support apalagi kudu diantar dengan melangkah kaki.

Suharyanto mengatakan kesiapan logistik di posko saat tetap mencukupi untuk mendukung kebutuhan masyarakat dalam satu hingga dua pekan ke depan. Namun, pengedaran kepada pengungsi berdikari tetap menjadi tantangan lantaran titik-titik pengungsian tersebar di sejumlah wilayah.

Karena itu, lanjutnya, BNPB memperkuat satuan tugas di tingkat kabupaten dan kota untuk menjangkau penduduk nan tetap memperkuat di lokasi-lokasi pengungsian mandiri. (H-2)

Selengkapnya