Jakarta, CNBC Indonesia - Konsumsi batu bara China tercatat mencapai 4,4 miliar ton per tahun. Jumlah tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pembangkit listrik, namun juga untuk gasifikasi dan industri kimia.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu menilai, besarnya konsumsi batu bara China tersebut menandakan bahwa China sukses mengoptimalkan penggunaan batu bara di dalam negeri mereka.
"China itu setiap tahun konsumsi 4,4 miliar metrik ton batu bara, kurang lebih 30% mereka itu, 30-35% mereka itu pakai untuk produk gasifikasi, selebihnya pakai untuk energi," jelasnya dalam aktivitas Mindialogue 2026, di Jakarta, dikutip Kamis (13/8/2026).
Besarnya porsi gasifikasi di China berbanding terbalik dengan kondisi pemanfaatan batu bara di Indonesia saat ini.
Todotua menilai Indonesia tetap tertinggal lantaran belum sukses mengoperasikan satu pun proyek gasifikasi skala industri untuk menghasilkan nilai tambah.
"Kita hari ini 1 ton gasifikasi aja belum pernah terjadi. Ini sangat kocak sebenarnya, kita sekarang punya planning untuk ke DME, tetapi kan sebenarnya jika kita lihat cycle-nya itu, batu bara coal to synthetic gas, synthetic gas to coal synthetic methanol," paparnya.
Sejalan dengan itu, pemerintah saat ini tengah mendorong proyek strategis konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Pihaknya menyebut support bagi badan upaya nan mau mengembangkan teknologi gasifikasi menjadi metanol sintetis.
"Kita punya batu bara nan bisa kita gasifikasi, makanya kita sangat mendukung sekali pada saat, teman-teman Bukit Asam (PTBA), membawa konsep proposal dengan BPN untuk coal to synthetic gas, apalagi untuk synthetic gas maju lagi kepada methanol," tambahnya.
Hilirisasi tersebut dinilai krusial untuk menekan biaya konsumsi daya nasional nan tetap tinggi akibat ketergantungan impor. Dengan menguasai teknologi pengolahan batu bara di dalam negeri, Indonesia diharapkan bisa mengendalikan struktur biaya industrinya sendiri.
"Konteks paling utama jika menurut saya, itu untuk kita menekan cost demand consume kita sendiri. Kenapa? Kalau kebanyakan kita impor, kontrol cost-nya itu ya berjuntai kepada negara produsennya," tandasnya.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

52 menit yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·