Arti Pemain Terbaik bagi Bruno Fernandes

1 jam yang lalu 3
Arti Pemain Terbaik bagi Bruno Fernandes Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

MUSIM lampau bukanlah musim nan spesial bagi Manchester United maupun kapten kesebelasan Bruno Fernandes. Sejak kehadirannya di Old Trafford pada 2020, baru Piala FA dan Piala Carabao nan bisa dia persembahkan untuk ‘Setan Merah’.

Ketika kemudian dia terpilih sebagai pemain terbaik Liga Primer 2025/2026 dari Asosiasi Wartawan Sepak Bola Inggris maupun Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Inggris, sebetulnya tidak ada nan layak untuk dibanggakan. Satu nan dia lakukan adalah memecahkan rekor memberikan asis kepada rekan satu timnya untuk mencetak gol.

Fernandes memang merupakan playmaker, baik bagi Manchester United maupun tim nasional Portugal. Keahlian Fernandes adalah menciptakan kesempatan bagi rekan satu timnya untuk mencetak gol.

Di musim lalu, Fernandes luar biasa memainkan peran itu. Ia menciptakan 21 kali asis untuk terjadinya gol nan dicetak Manchester United. Itu artinya nyaris 50% dari gol nan bisa dicetak ‘Setan Merah’ berasal dari Fernandes.

Rekor 21 asis memecahkan apa nan pernah dilakukan Kevin de Bruyne untuk satu musim bagi Manchester City. Gelandang asal Belgia itu merupakan playmaker terbaik nan pernah dimiliki the Citizens dan menyumbangkan banyak piala bagi klub asal Manchester itu, termasuk Piala Champions dan Piala Dunia Antarklub.

Fernandes merasa tersanjung terpilih sebagai pemain terbaik Liga Inggris. Namun, dia merasa tetap banyak nan kudu bisa diberikan untuk mengembalikan kejayaan Manchester United.

Kekalahan 0-2 dari Hull City di pertandingan pembukaan musim menodai penerimaan gelar nan dia dapatkan. “Tetapi kita tidak bisa memandang nan sudah terjadi. Ujian sesungguhnya bakal terjadi Minggu lusa saat kami tampil di kandang untuk menjamu Ipswich Town,” tandas Fernandes.

TIDAK JALAN

Keinginan Michael Carrick untuk membikin gebrakan di awal musim tidak melangkah dengan baik. Pilihan untuk memainkan berbarengan Fernandes dan gelandang baru Youri Tielemans menjadi awal persoalan lantaran membikin kegunaan nan sama menjadi bertumpuk.

Karakter permainan Fernandes dan Tielemans memang sama. Mereka terbiasa menjadi tumpuan untuk mengalirkan bola. Tielemans tidak fit untuk bisa menjelajah lebih luas ke belakang.

Gelandang memperkuat baru asal Brasil Andrey Santos juga tidak terlalu spesial menggalang lapangan tengah. Pemain nan didatangkan dari Chelsea itu tampak keberatan badan dan tidak lincah untuk menjadi orang pertama nan mematahkan serangan lawan.

Carrick akhirnya menarik keluar Santos dan memainkan gelandang jagoan Kabbie Mainoo. Di musim lampau Mainoo menjadi pilar krusial kebangkitan 'Setan Merah' untuk berduet dengan Casemiro.

Persoalan lain nan belum bisa diselesaikan Carrick adalah koordinasi di barisan pertahanan. Khususnya dalam mengantisipasi bola mati, baik itu tendangan penjuru maupun tendangan bebas. Dua gol Hull tercipta lantaran kekacauan barisan belakang dalam mengantisipasi bola mati.

Pada musim nan lampau itulah nan membikin 'Setan Merah' sering kudu menelan pil pahit. Harry Maguire tidak bisa mengarahkan rekan-rekannya untuk disiplin menjaga lawan. Semua condong menjaga wilayah sehingga tidak memandang pergerakan pemain lawan.

Dua gol nan diciptakan Hull datang dari dua center-back mereka. Semi Ajayi dan Nobel Mendy bisa bebas untuk bisa menjebol gawang Senne Lammens nan kebingungan memandang pergerakan pemain musuh di kotak mini pertahanannya.

Tanpa ada perbaikan untuk mengantisipasi bola-bola mati, malapetaka selalu menakut-nakuti gawang Manchester United. Apalagi setelah pekan ini menjamu Ipswich, pekan depan tim didikan Carrick bakal berjumpa Chelsea.

Awal kejuaraan kudu dijaga dan dikawal dengan baik lantaran menentukan perjalanan kemudian. Ruben Amorim kudu kehilangan bangku pembimbing dalam lima bulan lantaran kekalahan beruntun di awal kejuaraan sehingga membawa 'Setan Merah' ke lembah degradasi.

Carrick sukses pada musim lampau tidak hanya menyelamatkan Manchester United dari keterpurukan, tetapi juga membawa kembali klub nan membesarkannya sebagai pemain lolos ke arena Liga Champions. Posisinya bisa terancam juga jika Minggu malam kelak tidak bisa bangkit dan membawa kemenangan pertama bagi 'Setan Merah'.

SELAMAT

Pentingnya membikin start awal disadari betul oleh pembimbing Manchester City Enzo Maresca. Ia seperti memenangi pertandingan final saat tim asuhannya bisa mencetak dua gol di 6 menit terakhir untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1 saat menjamu Bournemouth.

Hampir 84 menit Maresca dibuat gelisah. Para pemain tamu bisa membikin tim asuhannya frustrasi lantaran kehilangan akal. Para pemain Bournemouth tidak hanya berani memainkan bola dari kaki ke kaki di wilayah permainan sendiri, tetapi juga bisa mencuri gol di menit ke-26 melalui kaki penyerang sayap Marcus Tavernier.

Bisa dibayangkan jika di kepemimpinan perdananya, Maresca kandas mempersembahkan kemenangan bagi Manchester City saat tampil di Stadion Etihad. Sementara itu, sepekan sebelumnya dipaksa menelan kekalahan 0-3 dari Arsenal di Charity Shield.

Jumat malam kelak City bakal diuji lagi oleh Crystal Palace. Selama ini klub asal London terkenal sebagai kuda hitam dan bisa merepotkan klub-klub besar.

Persoalan terbesar nan dihadapi Maresca adalah belum adanya pemain nan bisa menggantikan peran Rodri. Untuk sementara ini, dia mendorong center-back Marc Guehi untuk main sebagai gelandang. Namun, karakternya sangat berbeda sehingga dalam menghadapi Palace, Maresca mungkin mengembalikan mantan pemain Palace itu ke belakang.

Kehadiran pemain muda asal Maroko Ayyoub Bouaddi diharapkan bisa menggantikan peran Rodri. Hanya saja, kesepakatan transfer nan baru selesai dengan Lille memerlukan waktu bagi pemain berumur 18 tahun itu untuk bisa segera bermain untuk City.

Palace nan baru ditinggal pembimbing Oliver Glasner memerlukan waktu untuk dipimpin Pierre Sage. Apalagi mereka kudu kehilangan dua pemain nan tetap didera cedera, ialah Ismail Sarr dan Chadi Riad.

Namun, Palace nan menelan pil pahit dari Everton 0-2 di pertandingan pertama tetap bisa menjadi ancaman bagi City. Apalagi Selhurst Park selalu memberikan daya tersendiri kepada Jean-Philippe Mateta dan kawan-kawan.

Selengkapnya