Cerita dari Secangkir Kopi yang Menghangatkan Dataran Tinggi Dieng

52 menit yang lalu 2
Cerita dari Secangkir Kopi nan Menghangatkan Dataran Tinggi Dieng Festival kopi di dataran tinggi Dieng.(MI/LILIK DARMAWAN)

UDARA dingin Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, tidak menghalangi visitor untuk menikmati hangatnya kopi. Sore itu, Jumat (28/8), suhu di area Dieng tercatat sekitar 16 derajat Celsius.

Di Venue Gatotkaca, area Candi Dieng, sejumlah warung kopi berdiri di tengah ramainya penyelenggaraan Dieng Culture Festival (DCF) 2026. Berbagai jenis kopi dari sejumlah wilayah ditawarkan kepada pengunjung.

Seorang visitor berjulukan Alex tampak memilih salah satu warung sebelum menikmati kopi arabika nan disajikan. Setelah beberapa tegukan, dia langsung memberikan penilaiannya. "Hmmm... kopinya mantap, strong banget," ujarnya.

Kopi nan dinikmati Alex berasal dari Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kopi Arabika Rumbia menjadi salah satu produk dari luar Jawa nan datang dalam Festival Kopi Dieng 2026.

Nasrum, pegiat Kopi Arabika Rumbia, mengatakan kopi nan dikembangkannya tumbuh di area pegunungan dengan ketinggian antara 1.000 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut.

Ia mengaku baru pertama kali mengikuti Festival Kopi Dieng. Sebelumnya, Nasrum pernah membawa produk kopinya ke sejumlah pagelaran di Jakarta, Bali, dan Ambon. "Alhamdulillah, kami berterima kasih sekali dengan teman-teman panitia Dieng Kopi Festival nan telah mengundang kami datang di tempat ini," kata Nasrum.

Bagi Nasrum, mengikuti pagelaran di Dieng memberikan pengalaman berbeda. Selain dapat berjumpa dengan pelaku kopi dari beragam daerah, dia juga mengaku tertarik dengan karakter area Dieng nan berada di dataran tinggi.

Festival tersebut, kata dia, juga menjadi kesempatan untuk memperluas pasar produk Kopi Arabika Rumbia. "Keuntungannya, kopi kita bisa dikenal di seluruh Indonesia. Bahkan di luar negeri juga, lantaran tadi ada buyer nan telah mencicipi kopi kami," ujarnya.

Lebih dari sekadar tempat menjual produk, Festival Kopi Dieng juga menjadi ruang pertemuan bagi pelaku upaya kopi. Para petani, pengolah, pelaku usaha, hingga penikmat kopi dari beragam wilayah berjumpa dan saling berganti pengalaman.

Tidak hanya dari luar Dieng saja, melainkan juga pegiat kopi dari Banjarnegara juga ikut tampil dalam perhelatan itu.

Festival Kopi Dieng menjadi salah satu bagian dari rangkaian Dieng Culture Festival 2026 nan berjalan di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, pada 28-30 Agustus 2026.

Di tengah agenda budaya, musik, dan wisata alam, pagelaran kopi membawa cerita lain tentang potensi ekonomi imajinatif nan tumbuh di area pegunungan.

The Dieng Origin Mountain Coffee

Ketua Panitia Festival Kopi Dieng Alif Zen Fahmi mengatakan aktivitas tersebut merupakan hasil kerjasama Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara dengan Ekonomi Kreatif Banjarnegara.

Festival Kopi Dieng tahun ini mengusung tema “The Dieng Origin Mountain Coffee”. Tema tersebut sekaligus menjadi upaya untuk memperkenalkan karakter kopi nan tumbuh di beragam wilayah Banjarnegara. "Kami mau menegaskan bahwa sebenarnya Banjarnegara memang mempunyai kopi dan punya potensi nan cukup bagus," kata Alif.

Menurut dia, Festival Kopi Dieng tidak hanya berfokus pada satu jenis kopi. Pengunjung dapat mengenal lebih jauh kopi arabika, robusta, hingga liberika nan dihasilkan dari beragam area di Banjarnegara.

Melalui konsep Dieng Coffee Showcase, visitor diajak memandang proses panjang perjalanan kopi sebelum sampai ke dalam cangkir.

Pameran tersebut dibagi ke dalam sejumlah stasiun, ialah Green Bean Station, Roastery Station, Public Cupping, dan Brewing Station.

Di Green Bean Station, visitor diperkenalkan dengan beragam jenis biji kopi. Selanjutnya, Roastery Station menampilkan proses penyangraian biji kopi.

Sementara melalui Public Cupping, visitor dapat mengenali karakter dan cita rasa kopi melalui proses pencicipan. Adapun Brewing Station memperlihatkan beragam teknik penyeduhan.

Dengan konsep tersebut, visitor tidak hanya menikmati secangkir kopi, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai proses panjang nan berjalan sejak kopi dipanen hingga disajikan.

Festival tersebut juga menghadirkan Spice Station nan menampilkan beragam produk rempah dari Banjarnegara. Sektor ekonomi imajinatif turut menghadirkan penemuan kopi susu Dawet Ayu nan memadukan kopi dengan kuliner unik daerah.

Dengan begitu, kopi tidak ditempatkan sebagai komoditas tunggal, tetapi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi imajinatif nan terhubung dengan budaya, pariwisata, pangan, dan produk lokal lainnya.

Semarak Festival Kopi Dieng semakin terasa dengan kehadiran kopi dari beragam wilayah di Indonesia.

Melalui support Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum, pagelaran tersebut menghadirkan kopi dari 14 Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis dari beragam daerah.

Produk kopi nan dipamerkan berasal dari sejumlah wilayah di Sumatra, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua.

Selain kopi, sejumlah produk berbasis kekayaan intelektual komunal juga turut diperkenalkan, di antaranya carica dan purwaceng dari Wonosobo.

Bagi Alif, kehadiran pelaku kopi dari beragam wilayah menjadi kesempatan krusial untuk berganti informasi, pengalaman, dan mengenal karakter kopi nan berbeda-beda.

Festival tersebut juga memberikan ruang besar bagi pelaku kopi lokal. Sebanyak 35 pengirim produk kopi dari beragam wilayah Banjarnegara terlibat dalam aktivitas tersebut, mulai dari Kecamatan Susukan hingga Batur.

Sejumlah pelaku upaya bimbingan PNM dan UMKM juga ikut ambil bagian. Kehadiran mereka diharapkan dapat membuka kesempatan pasar baru di tengah tingginya kunjungan visitor ke area Dieng selama DCF berlangsung.

Kehadiran Festival Kopi Pegunungan Dieng tidak hanya mempunyai makna ekonomi. Kopi juga dipandang dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung agenda menjadikan Banjarnegara sebagai kabupaten konservasi.

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengatakan Festival Kopi Pegunungan Dieng semakin menambah semarak penyelenggaraan DCF 2026.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, kata dia, mempunyai komitmen untuk membawa rumor lingkungan dalam beragam upaya pembangunan daerah.

Kopi menjadi salah satu komoditas nan dinilai dapat dikembangkan sejalan dengan upaya menjaga area pegunungan. "Banjarnegara kami mau menjadi kabupaten konservasi. Kami membawa rumor lingkungan, dan salah satunya melalui kopi," kata Amalia.

Ia mengatakan masyarakat Banjarnegara juga mempunyai komitmen untuk mengembangkan kopi sebagai bagian dari upaya konservasi.

Potensi kopi Banjarnegara semakin diperkuat oleh prestasi di tingkat nasional. Kopi arabika Banjarnegara meraih juara kedua tingkat nasional, sementara kopi robusta meraih ranking ketiga.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kopi Banjarnegara mempunyai kualitas dan daya saing nan dapat terus dikembangkan.

Amalia berambisi para visitor DCF dapat menikmati kopi dari Pegunungan Dieng sekaligus mengenal lebih jauh potensi wilayah tersebut.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Aswin Gantina mengatakan keterlibatan BI dalam Festival Kopi Dieng merupakan bagian dari kerjasama dengan penyelenggara DCF untuk mengembangkan komoditas unggulan Banjarnegara.

Menurut dia, wilayah tersebut mempunyai potensi kopi arabika dan robusta nan cukup besar. Bank Indonesia juga telah melakukan pembinaan terhadap sejumlah golongan pelaku kopi di wilayah Banjarnegara.

Festival menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk kopi unggulan wilayah kepada pengunjung.

"Kami mau mengenalkan, visitor alias partisipan nan mengunjungi Dieng Culture Festival itu juga bisa merasakan produk-produk kopi unggulannya Banjarnegara," kata Aswin.

Ia menilai pengembangan industri kopi tidak cukup dilakukan dengan meningkatkan produksi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting.

Karena itu, BI turut mendukung kejuaraan manual brew nan digelar dalam rangkaian Festival Kopi Dieng. Kompetisi tersebut diikuti sekitar 12 peserta dan menghasilkan tiga pemenang terbaik.

"Selain kita concern di pengembangan komoditas kopinya, kita juga concern ke pengembangan SDM-nya," ujar Aswin.

Pengembangan sumber daya manusia tersebut dinilai krusial agar keahlian pelaku kopi di Banjarnegara dan wilayah Banyumas Raya semakin bisa bersaing.

Kualitas SDM di bagian kopi, menurut Aswin, juga mulai menunjukkan prestasi. Salah seorang barista asal Banjarnegara sebelumnya sukses masuk tujuh besar dan meraih juara favorit kedua dalam kejuaraan cangkir barista tingkat nasional.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa potensi kopi Banjarnegara tidak hanya berada pada kualitas biji kopi, tetapi juga pada sumber daya manusia nan terlibat dalam proses pengolahan dan penyajiannya.

Karena itu, pengembangan industri kopi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sektor perkebunan, pengolahan, pemasaran, hingga peningkatan kapabilitas sumber daya manusia.

Keberadaan produk kopi nan telah mempunyai perlindungan indikasi geografis juga menjadi bagian krusial dalam Festival Kopi Dieng.

Perlindungan tersebut memberikan nilai tambah lantaran identitas sebuah produk tidak dapat dipisahkan dari wilayah serta masyarakat nan menghasilkannya.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengenal kopi dari cita rasanya, tetapi juga memahami cerita tentang wilayah asal, lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh, serta organisasi petani nan merawatnya.

Festival Kopi Dieng akhirnya menjadi salah satu cerita nan melengkapi penyelenggaraan DCF 2026. Jika DCF menampilkan warisan budaya dan tradisi masyarakat Dieng, Festival Kopi membawa cerita tentang komoditas pegunungan nan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Festival tersebut mempertemukan petani dengan calon pembeli, pelaku upaya dengan wisatawan, serta barista dengan para penikmat kopi. Dari Rumbia di Jeneponto hingga lereng-lereng Dieng, setiap kopi membawa karakter dan cerita nan berbeda dengan aroma nan sama-sama menyegarkan. (H-2) 

Selengkapnya