Muhammad Habibi, pulang sekolah melintasi lahan sawah di area Glee Ceurih, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)
FENOMENA alam El Nino makin menghantui petani padi di area Provinsi Aceh. Ribuan hektare (ha) tanaman padi musim gadu (musim tanam kedua) sekarang dilanda krisis air.
Di Kabupaten Pidie, misalnya, ratusan hektare tanaman padi berumur dua pekan hingga dua bulan mulai mengalami krisis air. Sumber pengairan seperti Sungai Tiro, Sungai Krueng Baro, dan Sungai Krueng Reubee telah mengalami penyusutan tinggi.
Ketinggian permukaan air nan sebelumnya separuh sungai, sekarang hanya tinggal sekitar 20%. Karena permukaan rendah, maka air sungai mulai susah dialiri ke jaringan tersier untuk disebar ke areal persawahan.
Amatan Media Indonesia, di antara letak nan mulai krisis sumber air itu adalah sebagian lahan sawah di Kecamatan Pidie, Kecamatan Indrajaya, Peukan Baro, Padangtiji, dan Kecamatan Delima. Sebagian tanah di sawah nan sedang pertumbuhan itu mulai mengering hingga retakan tanah mulai terlihat dan sebagian lantai sawah lainnya hanya tersisa kelembapan.
"Ada sebagiannya sudah mengering dan tanahnya mulai pecah-pecah berlubang petir. Kalau tidak segera turun hujan, dikhawatirkan terganggu proses pertumbuhan dan pembentukan kembang padi," tutur Abdullah, petani di Kecamatan Pidie, Rabu (15/7).
Di area Desa Jurong, Kecamatan Indrajaya, petani mulai menggunakan mesin pompa untuk menghisap air saluran pembuangan. Mereka takut jika tidak segera menghisap air dengan mesin pompa, debit air nan terus menyusut bakal lenyap total.
Kondisi nyaris sama juga dilakukan petani di Kemukiman Bambi, Kecamtan Peukan Baro. Petani menggunakan mesin pompa air pada beberapa titik saluran nan tetap mengalir.
Adapun pada beberapa letak lainnya di Perkampungan Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, pengaturan pembagian sumber air jaringan irigasi diperketat. Pada siang hari dialiri untuk lahan sawah di bagian hulu dan ketika malam tiba sampat menjelang pagi hanya bagi petani di area hilir.
"Kami di bagian hilir saluran tali air hanya boleh berbagi jatah air saat malam tiba hingga pagi. Mereka nan di atas memanfaatkan waktu siang untuk memperoleh air," tutur Tarmizi, petani di Kecamatan Peukan Baro.
Penelusuran Media Indonesia, patokan budaya alias kearifan lokal tersebut diatur oleh kejruen blang (tokoh budaya tani). Ini sudah berjalan turun temurun.
Siapa saja nan melakukan pelanggaran patokan itu bakal dikenai denda alias hukuman sosial. Hal itu dilakukan untuk saling menghargai kewenangan sebagai petani dan memelihara keselarasan sesama. (MR/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·