Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Tasikmalaya, Tarlan, kasus HIV/AIDS di wilayahnya pada bulan Agustus 2026 mengalami penurunan tercatat 80 penduduk positif usia produktif paling banyak.(MI/Kristiadi)
KASUS HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat tahun 2026 mengalami penurunan sejak Januari-Agustus tercatat 80 kasus dan didominasi laki-laki seks dengan laki-laki paling banyak usia produktif. Peningkatan tersebut, terjadi sejak dua tahun terakhir meski upaya tersebut berkah kerja keras.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Tasikmalaya, Tarlan mengatakan, kasus HIV/AIDS di wilayahnya tervalidasi secara nasional melalui SIHA dan kondisi tersebut mengalami penurunan di tahun 2026.
Berdasarkan info pengesahan sistem info (SIHA) HIV/AIDS mencatat 80 kasus pada 2026, tapi dibandingkan bulan Januari-Agustus secara komulatif tahun 2004 hingga 2026 mencapai 1.595 kasus dengan nomor kematian 400 orang.
"HIV/AIDS di bulan Januari hingga Agustus tahun 2026 memang angkanya menurun melalui skrening usia produktif berisiko tinggi pada masyarakat dan berasas hasil pemeriksaan tercatat 80 orang positif paling banyak usia produktif, didominasi laki-laki seks dengan laki-laki (LSL)," ujar, Tarlan, Kamis (27/8/2026).
Menurut Tarlan, kasus HIV/AIDS memang condong mengalami penurunan di tahun 2026 terjadi sejak 2022 tercatat 145 kasus, 2023 tercatat 145 kasus, 2024 ada 169 kasus, 2025 ada 146 kasus dan 2026 tercatat 80 kasus.
Akan tetapi, golongan akibat tertular HIV/AIDS antara lain laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, wanita pekerja seks (WPS), ibu mengandung dan usia produktif rentan terpapar.
"Kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya sejak bulan Januari hingga Agustus 2026 tercatat 80 penduduk positif dan didominasi usia produktif mulai 20 hingga 40 tahun. Kasus paling banyak jenis kelamin laki-laki mencapai 82% dan wanita 18% paling banyak di Kecamatan Tawang, Cipedes, Cihideung," katanya.
Menurutnya, kasus HIV/AIDS menjadi perhatian lantaran banyak usia produktif meningkat cukup signifikan dan beragam upaya pencegahan dilakukan dengan langkah melakukan edukasi kepada pelajar SMP, SMA dan peguruan tinggi terutama kepada siswa baru.
Akan tetapi, kasus HIV/AIDS akibat tinggi pada jenis kelamin laki-laki di wilayahnya mencapai 82% meski kasus ini menular melalui cairan tubuh, darah, air susu ibu, sperma dan vagina.
"Kasus HIV/AIDS nan terjadi di wilayahnya mengalami penurunan tercatat 80 penduduk positif dan orang pengidap dapat hidup normal agar rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) seumur hidup. Karena, fungsinya menekan jumlah virus dalam tubuh agar tidak terdeteksi termasuknya menurunkan akibat penularan dan menjaga daya tahan tubuh tetap baik, kualitas hidup ODHA bisa tetap terjaga," pungkasnya. (AD)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·