Gambar beranotasi dari galaksi kentang merah MQN01 J004131.9-493704.(ESO/NRAO/NAOJ/ALMA; Pemrosesan gambar: NASA/CXC/SAO/N. Wolk & P. Edmonds)
PARA astronom sukses mengawasi kejadian unik di alam semesta purba menggunakan Observatorium Sinar-X Chandra. Sebuah jet dari lubang hitam supermasif terdeteksi sedang mengaduk dan memanaskan gas nan mengelilingi galaksi unik berjuluk "red potato" alias "kentang merah".
Galaksi nan mempunyai nama resmi MQN01 J004131.9-493704 ini terletak sekitar 11,7 miliar tahun sinar dari Bumi. Penampilannya nan gumpal dan aneh, sebagaimana pertama kali ditemukan oleh Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), menjadi argumen di kembali julukan unik tersebut. Galaksi ini diamati sebagaimana kondisinya saat alam semesta tetap berumur sekitar 2 miliar tahun.
Sesuai julukannya, galaksi kentang merah ini berada di tengah lingkungan gas dingin dan padat. Kondisi tersebut semestinya memicu pembentukan bintang-bintang baru secara aktif. Namun, proses kelahiran bintang justru tidak terjadi. Penelitian terbaru nan terbit di jurnal Astronomy & Astrophysics pada 7 Juli lampau akhirnya mengungkap alasannya: aktivitas lubang hitam supermasif di sekitarnya mencegah gas tersebut memendingin dan membentuk bintang.
"Bintang-bintang tidak terbentuk seperti nan kami duga, jadi kami mencari tahu alasannya," kata ketua tim peneliti, Weichen Wang dari University of Milan-Bicocca, Italia. "Kami menemukan kemungkinan adanya 'koki' di dapur kosmik ini."
Petunjuk awal gangguan ini terlihat dari tingkat turbulensi gas di sekitar galaksi nan tidak biasa. Melalui pengamatan Chandra, tim peneliti menemukan jet dari lubang hitam supermasif nan mengarah tepat ke galaksi kentang merah dan menghempas selubung gas di sekitarnya.
"Jika jet lubang hitam tersebut mengaduk gas di sekitar kentang merah, perihal itu dapat secara signifikan memperlambat seberapa sigap galaksi memperoleh material baru untuk membentuk bintang," ujar personil tim, Sebastiano Cantalupo.
"Dengan daya dari adukan tersebut, galaksi ini bakal 'kelaparan' dan tidak bisa menghasilkan bintang baru pada tingkat nan diharapkan untuk galaksi sejenis di era kosmik nan sama," tambahnya.
Menariknya, lubang hitam nan mengganggu tersebut berada di galaksi lain nan berjarak sekitar 200.000 tahun sinar dari galaksi kentang merah. Berbeda dengan si kentang merah, galaksi induk lubang hitam tersebut serta galaksi-galaksi lain di sekitarnya justru sedang aktif melahirkan bintang-bintang baru.
"Kentang merah ini meninggalkan remah-remah info nan dapat membantu kita melacak jawaban atas beberapa pertanyaan nan sangat besar," tutur personil tim lainnya, Andrea Travascio. "Tugas nan cukup krusial untuk sebuah galaksi berbentuk kentang seperti ini." (Space/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·