Maradona, Doping di Piala Dunia 1994 hingga Kasus Narkoba

1 bulan yang lalu 11

Jakarta, CNN Indonesia --

Diego Armando Maradona tidak hanya kudu pulang lebih sigap dari arena Piala Dunia 1994, salah satu bintang lapangan hijau itu juga mendapat skors selama 15 bulan dari FIFA setelah terbukti mengkonsumsi doping.

Namun sebelum kasus doping terkuak, Maradona sudah membikin publik heboh pada tahun 1991 setelah tes darah yang menunjukkan bahwa dirinya positif menggunakan narkoba jenis kokain. 

Mengutip Washington Post, akhir April 1991, polisi di BuenosAires, Argentina menggerebek apartemen nan diduga sebagai tempat pesta narkoba. Polisi mendapati Maradona berbareng dua rekannya dalam keadaan mabuk. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu mengetahui ada polisi, salah satu dari mereka membuang sebuah paket ke luar jendela. Paket itu berisi serbuk putih nan diidentifikasi polisi sebagai kokain. Malam itu, polisi langsung menahan Maradona dan dua rekannya.

Kabar tentang penangkapan Maradona bocor ke media. Ketika sang bintang keluar dari apartemen sudah banyak wartawan nan menunggu. Maradona mencoba tersenyum di hadapan para jurnalis. Namun, dia tak kuasa menahan air mata.

Maradona nan kala itu bermain untuk Napoli kembali ke Argentina usai diskors selama 15 bulan oleh federasi sepak bola Italia. Hukuman itu dijatuhkan kepada Maradona lantaran dia ketahuan menggunakan kokain.

Dalam beberapa wawancara dengan media, Maradona mengaku dirinya memakai kokain hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk membuatnya lebih berkekuatan di lapangan. Apalagi dengan kekayaan nan melimpah, segalanya memang bisa didapatkan.

Mengutip Independent, saat ia berumur 35 tahun dan ditangkap pada tahun 1991 Maradona mengaku menderita lantaran peralatan haram tersebut.

Maradona mengaku bahwa dia mulai menggunakan kokain pada tahun 1982, pada usia 22 tahun, saat bermain di Eropa bersama Boca Juniors. Tahun 1984, ketika dia berasosiasi dengan Napoli, dia mengaku sempat menjadi pengguna rutin. 

Ia juga dua kali kudu dirawat di rumah sakit lantaran nyaris meninggal akibat masalah jantung nan mengenai dengan penyalahgunaan kokain. Maradona pun menyebut bahwa kokain, adalah ujian terberatnya.

Maradona nan meninggal di usia 60 tahun itu sempat menceritakan gimana dia berjuang melawan obat-obatan terlarang. Di 2004, Maradona sempat dibawa menjalani konseling untuk masalah penyalahgunaan narkoba.

Banner Gempita Bola 2026

September tahun itu, dia pergi ke Kuba untuk pengobatan di Havana's Center for Mental Health. Di sana, dia mendapat kunjungan dari temannya, Presiden Kuba Fidel Castro.

Pria kelahiran 30 Oktober itu mengatakan bahwa masalah adiksi membikin dirinya mengalami malapetaka pada kemampuannya bermain sepak bola. Dia juga mengungkapkan bahwa lantaran narkoba, tidak bisa tidur nyenyak menggunakan bantal.

Di titik terendahnya, Maradona mengaku sempat mengalami koma lantaran overdosis kokain. Dia terbangun sembari memandang putrinya Gianinna Dinorah nan baru berumur empat tahun, nan memintanya untuk berhenti.

Tahun 2015, Maradona mengatakan bahwa dia akhirnya sukses mengalahkan setan berjulukan narkoba itu. Maradona meninggal setelah mengalami serangan jantung, pada 25 November 2020. Hasil autopsi rumah sakit mengungkapkan sang legenda tidak mengkonsumsi alkohol dan narkoba sebelum kematian.

Kasus doping

Selain narkoba, kasus doping nan dialami Maradona menjadi catatan kelam sepak bola dunia. Terlebih, Maradona dikenal sebagai seorang pemain berbakat dan dilabeli sebagai salah satu pesepakbola terbaik di masanya.

Di Piala Dunia 1994, Maradona mencetak satu gol ketika Argentina mengalahkan Yunani dengan skor 4-0. Mantan pemain Barcelona itu juga membikin assist ketika Tim Tango menang 2-1 atas Nigeria.

Setelah laga menghadapi Nigeria, Maradona diminta menjalani serangkaian tes doping. Hasilnya Maradona terbukti positif mengkonsumsi efedrin, salah satu obat nan dilarang FIFA.

Efedrin adalah obat nan bisa membantu mengatasi masalah pernapasan sekaligus meningkatkan performa dan kinerja. Selain itu, efedrin juga disebut bisa membantu menurunkan berat badan, masalah nan dialami Maradona kala itu.

Maradona nan terbukti menggunakan doping kemudian diusir dari arena Piala Dunia 1994. Ia kudu angkat kaki lebih sigap dari Amerika Serikat dari teman-temannya.

Pada Kamis sore, 30 Juni 1994, Maradona mengungkapkan bahwa dia telah dipermainkan oleh FIFA. Ia mendapatkan balasan 15 bulan tidak boleh main dan tampil di arena sepak bola apapun. Pada Piala Dunia 1994, Argentina hanya memperkuat hingga babak perdelapan final setelah kalah 2-3 dari Romania.

Usai menjalani rehabilitasi, Maradona sempat kembali ke bumi sepak bola dengan segala kontroversi nan melekat.

[Gambas:Video CNN]

(tim/dal)

Add as a preferred
source on Google
Selengkapnya