Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) secara resmi telah meluncurkan rencana terbarunya untuk melumpuhkan ekonomi Iran. Merespons manuver garang Washington tersebut, Republik Islam Iran menakut-nakuti bakal memberikan jawaban berskala regional dan dunia nan dirancang untuk meningkatkan pertaruhan bagi AS dan seluruh dunia.
Mengutip CNN International, Kamis (27/08/2026), Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Senin mengumumkan bahwa Washington bakal menargetkan jaringan kompleks nan dibangun Teheran untuk menghindari sanksi. Namun, pengumuman langkah "Hari-H ekonomi" Presiden Trump ini nyatanya hanya berfokus pada ekspansi dan peningkatan penegakan hukuman nan ada, seperti aset digital, teknologi, dan pelayaran, sembari memperingatkan balasan nan lebih ketat bagi negara nan tidak memutus hubungan dengan Iran.
Alih-alih tunduk pada tekanan hukuman sekunder tersebut, Iran justru memamerkan kemampuannya untuk memberikan penderitaan timbal balik. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan strategi negaranya di tengah kebuntuan bentrok diplomatik ini.
"Kami telah lama bermain catur... kami juga telah belajar bermain poker. Sekarang, untuk beberapa waktu, kami telah memainkan kombinasi keduanya," tegasnya.
Kiamat Harga Minyak Dunia
Selama berbulan-bulan, Iran telah memblokir kapal-kapal nan menggunakan Selat Hormuz, nan secara langsung mencegah ekspor minyak dan gas dari rute nan sebelum perang menyumbang seperlima pasokan global. Pemimpin proksi Iran di Yaman, golongan Houthi, juga telah membuka front baru di Laut Merah dengan menargetkan ekspor minyak Arab Saudi. Pemimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, sekarang memperingatkan bahwa mereka bisa menyerang sasaran daya di luar Selat Hormuz.
"Jika perang ekonomi berlanjut, tidak setetes pun minyak bakal diekspor, baik melalui Selat Hormuz maupun dari mana pun di Teluk Persia," paparnya.
"Kami bakal membalas dengan langkah seperti gempa bumi," tambahnya.
Ancaman sabotase ini dapat mendorong nilai minyak dunia meroket tajam. Di sisi lain, dengan support Angkatan Laut AS, perusahaan minyak dari Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai mematikan transponder di kapal tanker mereka untuk menghindari penemuan otoritas Iran.
Arab Saudi apalagi telah mengalihkan rute sekitar 5 juta barel minyak per hari melalui pipa Timur-Barat agar dapat mengekspor via Laut Merah, sementara produsen Timur Tengah lainnya memutar rute 2 juta barel per hari. Iran lantas merilis daftar 45 kapal nan dianggap melanggar dan menakut-nakuti bakal menjatuhkan balasan bagi mereka.
Perluas Peta Perang ke Eropa
Teheran juga berpotensi menargetkan letak nan lebih jauh menggunakan rudal mematikannya. Kementerian Luar Negeri Iran secara unik menyoroti pesawat pengisian bahan bakar AS nan terpantau meninggalkan wilayah Bulgaria, dan memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan negara personil Uni Eropa sekaligus NATO tersebut.
"Iran mempunyai kewenangan nan sah untuk menargetkan titik asal dan sumber dari setiap tindakan agresi. Teheran telah memperjelas bahwa tindakan apa pun nan dianggap mendukung agresi militer AS dan Israel terhadap Iran merupakan, berasas norma internasional, partisipasi dalam tindakan agresi," ungkap Baghaei.
Sebagai catatan, selama perang berlangsung, Iran telah menyerang 11 negara, pangkalan pasukan Inggris di Siprus, hingga pulau-pulau di Samudra Hindia nan digunakan oleh pasukan AS. Serangan terhadap Bulgaria tentu bakal menandai eskalasi nan sangat signifikan.
"Iran bakal menganggap partisipasi alias support negara mana pun terhadap perang ekonomi Amerika terhadap rakyat Iran sebagai tindakan perang," tegas Rezaei.
Revisi Doktrin Senjata Nuklir
Menyusul pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei-yang sebelumnya melarang senjata nuklir-oleh AS-Israel, narasi di kalangan resmi Iran perlahan bergeser ke arah wacana untuk menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Sekitar separuh ton uranium nan sangat diperkaya dan dapat digunakan untuk membikin senjata, saat ini tetap terkubur di dalam wilayah Iran, di mana intelijen AS menilai Teheran sekarang makin gencar menutup akses ke tempat penyimpanan tersebut.
Parlemen Iran dilaporkan tengah memperdebatkan rancangan undang-undang untuk menarik diri dari NPT. Rezaei pun secara gamblang menyinggung kemungkinan negaranya mulai merakit senjata nuklir.
"Seluruh bumi berkata, 'Jadi NPT tidak ada efeknya?'. Ketika Amerika melancarkan perang seperti itu, orang-orang bertanya: Mengapa kita tidak mengejar senjata nuklir kita sendiri?" ucapnya.
Adaptasi dan Pencegahan Eskalasi
Para mahir meyakini bahwa blokade ekonomi dan militer Washington tidak bakal membikin Iran meninggalkan posisi tawar utamanya untuk memegang kendali atas Selat Hormuz dan menuntut keringanan ekonomi. Peneliti senior di Center for International Policy, Sina Toossi, menyoroti daya tahan Teheran.
"Iran mempertahankan kemampuannya untuk membagi kerugian nan dibebankan kepadanya ke tingkat regional dengan menakut-nakuti aliran energi, infrastruktur, dan perdagangan kawasan. Semakin komprehensif Washington mencoba melakukan blokade ekonomi, semakin banyak negara nan perlu diajak bekerja sama, dan berpotensi semakin banyak tokoh nan bakal ditekan oleh Teheran sebagai tanggapan," tuturnya.
"Membangun jalur pengganti jika memungkinkan, sembari memperjelas bahwa upaya pencekikan ekonomi secara total tidak bakal bebas biaya bagi area tersebut," pungkasnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·