Ilustrasi: Gelombang panas ekstrem melanda negara-negara Eropa.(AFP)
KEMENTERIAN Kesehatan Italia memprediksi sebanyak 23 dari 27 kota besar di negara tersebut bakal berada dalam status siaga penuh untuk bersiap menghadapi ancaman tingkat tertinggi akibat gempuran gelombang panas (heatwave) pada Minggu (2/8/2026).
Suhu udara di seantero Italia diperkirakan terus melonjak tajam seiring menguatnya gelombang panas gelombang keempat nan melanda negara area Eropa Selatan tersebut sepanjang tahun ini.
Sebelumnya, sebanyak 11 kota telah ditetapkan berstatus siaga penuh pada Jumat (31/7/2026), meliputi Bolzano, Campobasso, Civitavecchia, Firenze, Frosinone, Latina, Perugia, Rieti, Roma, Turin, dan Viterbo.
Jumlah wilayah terdampak meningkat menjadi 19 kota seiring masuknya Bologna, Brescia, Cagliari, Milan, Napoli, Pescara, Venesia, dan Verona ke dalam daftar bahaya. Sementara itu, empat kota lainnya ialah Catania, Genoa, Palermo, dan Trieste, diproyeksikan bakal menyusul masuk ke dalam daftar status siaga penuh pada Minggu (2/8/2026).
Status siaga penuh alias "Peringatan Tingkat 3" mengindikasikan kondisi darurat cuaca panas ekstrem nan berjalan secara berkepanjangan. Kondisi ini membawa akibat fatal nan tinggi terhadap kesehatan masyarakat, apalagi bagi golongan usia muda dalam kondisi bentuk segar sekalipun.
Gelombang panas nan terjadi tahun ini disinyalir kuat telah memicu deretan kasus kematian warga. Selain meluapkan titik-titik kebakaran rimba dan kekeringan berkepanjangan, cuaca ekstrem ini menimbulkan ancaman kerugian besar bagi bumi usaha, khususnya di sektor pertanian.
Suhu musim panas nan terik ini apalagi memaksa para petani anggur di area Piemonte untuk mempercepat agenda masa panen demi menyelamatkan komoditas mereka dari pembusukan lahan.
Sementara itu, kebakaran rimba dahsyat dilaporkan kembali meluas di wilayah Gargano, Puglia. Kobaran api besar nan membakar area pesisir Peschici memaksa Pasukan Penjaga Pantai (Coast Guard) Italia mengevakuasi ratusan penduduk dan visitor melalui jalur laut.
Konsensus intelektual internasional menegaskan bahwa krisis suasana nan dipacu oleh emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emissions) akibat aktivitas manusia menjadi pemicu utama meningkatnya gelombang dan intensitas musibah cuaca ekstrem, mulai dari gelombang panas, kekeringan, angin besar dahsyat, hingga banjir bandang.
Meskipun terdapat beragam sumber emisi nan memicu pemanasan dunia (global warming), pendorong utamanya tetap berakar pada ketergantungan masif terhadap bahan bakar fosil—seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara—yang aktivitas komersialnya hingga sekarang terus meraup untung finansial raksasa bagi perusahaan-perusahaan daya global. (Ant/ANSA/P-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·