3 Pria India Punya Tugas Unik ‘Peniru Lutung’ di Kejuaraan Dunia BWF

53 menit yang lalu 3
3 Pria India Punya Tugas Unik ‘Peniru Lutung’ di Kejuaraan Dunia BWF Jabbar, salah satu pekerja unik nan disewa BWF.(Dok The Bridge )

TIGA laki-laki India mendapat pekerjaan tak biasa menjelang Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026 di New Delhi.

Mereka bakal bekerja menirukan bunyi lutung (langur) untuk mengusir monyet rhesus (Rhesus macaques) dari Indira Gandhi Indoor Stadium, venue turnamen nan berjalan pada 17-23 Agustus 2026.

Salah satu laki-laki nan direkrut berjulukan Jabbar. Bersama dua rekannya, dia bakal mengeluarkan bunyi pendek, keras, dan menyerupai panggilan lutung ketika monyet mendekati area stadion. Menurut Jabbar, metode tersebut efektif untuk membikin monyet menjauh.

"Ketika kami melakukan panggilan ini, monyet-monyet itu langsung lari," ujar Jabbar kepada Hindustan Times.

Berawal dari Monyet nan Masuk India Open

Keputusan menggunakan jasa langur mimics diambil setelah seekor monyet rhesus masuk ke area India Open pada Januari 2026, apalagi terlihat di sekitar tribun dan ruang latihan Indira Gandhi Indoor Stadium.

Insiden tersebut mendorong penyelenggara memperketat persiapan venue, terlebih India Open juga sempat terganggu oleh burung dan kotorannya nan jatuh ke lapangan.

Sejumlah pembenahan kemudian dilakukan, termasuk pemasangan pintu otomatis dan sistem pintu dobel untuk mencegah monyet maupun anjing liar masuk, serta beragam langkah untuk mengatasi burung dan serangga.

Kenapa tidak Menggunakan Lutung Asli?

Lutung original tidak lagi digunakan untuk mengusir monyet rhesus lantaran satwa tersebut mendapat perlindungan norma di India, termasuk larangan kepemilikan, perdagangan, maupun penyewaan.

Praktik penggunaan lutung terlatih untuk mengusir monyet di Delhi kemudian dihentikan pemerintah pada 2012.

Sebagai gantinya, tiga langur mimics alias peniru bunyi lutung dipekerjakan untuk menghasilkan bunyi nan dapat membikin monyet rhesus menjauh dari venue Kejuaraan Dunia BWF.

Dibayar hingga Rp4 Jutaan per Tugas

Keahlian menirukan bunyi lutung rupanya mempunyai nilai ekonomi. Jabbar dan rekan-rekannya bakal menerima penghasilan sekitar ₹20.000 hingga ₹25.000 per tugas. Namun, pekerjaan tersebut tidak berjalan secara rutin lantaran mereka hanya dipanggil ketika diperlukan.

Bagi Jabbar, keahlian tersebut merupakan skill nan sudah dikenalnya sejak lama.

“Ini adalah pekerjaan turun-temurun kami. Kami telah melakukannya sepanjang hidup kami.” tambahnya.

Trik Ini Bukan Pertama Kali Digunakan

Penggunaan manusia nan menirukan bunyi lutung juga bukan perihal baru bagi Delhi. Strategi serupa pernah digunakan ketika India menjadi tuan rumah KTT G20 pada 2023.

Saat itu, peniru bunyi lutung digunakan berbareng replika lutung berukuran sebenarnya di sejumlah letak untuk mencegah monyet rhesus mengganggu kegiatan. Cara tersebut sekarang kembali digunakan untuk menghadapi persoalan serupa, tetapi dalam konteks persiapan arena olahraga internasional.

PV Sindhu Sebut Ciri Khas India

Bintang bulu tangkis India PV Sindhu turut mengapresiasi langkah penyelenggara mengantisipasi gangguan monyet. Melalui akun X @Pvsindhu1, dia mengatakan solusi tersebut mungkin terlihat lucu, tetapi upaya di baliknya patut dihargai.

Melalui akun X @Pvsindhu1, Sindhu menulis, "You can laugh at the solution, but you have to love the effort."

Sindhu juga menilai pendekatan tersebut sebagai sesuatu nan “uniquely Indian” dan mencerminkan semangat, kehangatan, serta keramahan India dalam menyambut dunia.

Upaya Mencegah “Penonton” tak Diundang

Selain tiga peniru bunyi lutung, penyelenggara juga memperketat keamanan venue dengan menutup ventilasi, memasang jaring burung, serta menggunakan pintu otomatis dan sistem ganda. Jabbar dan dua rekannya bekerja memastikan monyet rhesus tidak kembali menjadi “penonton” di arena. (Elisa Rosalind/E-4)

Selengkapnya