BI Tegal dan Pemkot Pekalongan Kembangkan Padi Biosalin di Lahan Bekas Rob

1 jam yang lalu 3
BI Tegal dan Pemkot Pekalongan Kembangkan Padi Biosalin di Lahan Bekas Rob Kepala KPwBI Tegal, Bimala (baju hitam) panen padi berbareng pejabat mengenai Pemkot Pekalongan.(MI/Supardji Rasban)

KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal berbareng Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mengembangkan budidaya padi biosalin di lahan jejak rob Kelurahan Degayu. Program tersebut diarahkan untuk mengembalikan produktivitas lahan terdampak salinitas sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Program itu ditandai dengan panen Demfarm Smart Farming Padi Biosalin dan penyerahan wakaf produktif untuk kemandirian pangan bibit padi unggulan di Kelurahan Degayu, Pekalongan, Rabu (12/8).

Kegiatan dihadiri Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, Wakil Wali Kota Balgis Diab, unsur Forkopimda, lembaga daerah, Masyarakat Ekonomi Syariah Pekalongan, Dompet Dhuafa Jawa Tengah, serta golongan tani.

Kepala KPwBI Tegal Bimala mengatakan program nan sebelumnya melibatkan satu golongan tani sekarang berkembang menjadi empat kelompok. Perluasan tersebut meningkatkan jumlah petani nan terlibat sekaligus memperluas lahan pengembangan padi biosalin.

“Yang tadinya satu kelompok, sekarang menjadi empat kelompok. Jadi anggotanya lebih dari 70 dan luas lahannya sudah berkembang menjadi 56 hektare,” ujar Bimala.

Menurut dia, produktivitas padi biosalin nan dikembangkan melalui program tersebut telah melampaui rata-rata produktivitas padi nasional. Dari panen awal, produktivitas mencapai sekitar 6,6 ton per hektare.

“Kami sangat senang sekali lantaran produktivitasnya luar biasa. Sudah di atas rata-rata nasional, 6,6 ton per hektare, sementara rata-rata nasional sekitar 5,3 ton,” katanya.

Program Demfarm 2026 memperluas areal percontohan menjadi 3,5 hektare dengan menerapkan teknologi Climate-Smart Agriculture (CSA). Teknologi tersebut diterapkan secara terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menyesuaikan budidaya pertanian dengan akibat perubahan iklim.

Perbaikan lahan diawali melalui proses remediasi tanah menggunakan campuran biochar, dekomposer, dan pupuk kompos kotoran hewan. Metode tersebut ditujukan untuk memulihkan kesuburan tanah nan terdampak rob dan salinitas.

Pengembangan padi biosalin dinilai krusial bagi wilayah pesisir utara Jawa nan menghadapi persoalan rob dan meningkatnya salinitas lahan. Pemanfaatan kembali lahan jejak rob menjadi sawah produktif diharapkan dapat memperluas areal produksi pangan.

Bimala juga mengapresiasi rencana Pemkot Pekalongan membangun pusat pembenihan di area tersebut. Menurut dia, pusat pembenihan dapat mendukung pengembangan lahan eks-rob di sepanjang wilayah Pantai Utara Jawa.

“Rencana Pak Wali untuk membikin pusat pembenihan di sini luar biasa lantaran bisa mendukung lahan eks-rob nan sepanjang Pantura,” ujarnya.

Program tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi padi, tetapi juga diarahkan membangun ekosistem pertanian nan berkelanjutan. Keterlibatan golongan tani, pemerintah daerah, lembaga sosial, dan Bank Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan di daerah.

Pengembangan lahan biosalin juga diharapkan menjadi model pemanfaatan lahan terdampak rob nan dapat diterapkan di wilayah pesisir lainnya. Dengan penerapan teknologi pertanian adaptif, lahan nan sebelumnya susah ditanami dapat kembali dimanfaatkan untuk produksi pangan.

Kegiatan panen dan penyerahan wakaf produktif tersebut sekaligus memperkuat kerjasama antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat dalam mendukung swasembada beras nasional. Pemanfaatan bibit unggulan dan pengembangan pusat pembenihan diharapkan dapat memperluas akibat program ke area pesisir Pantura. (E-2)

Selengkapnya