376 Kasus ISPA Akibat Kabut Asap Karhutla di Pekanbaru

10 jam yang lalu 4
376 Kasus ISPA Akibat Kabut Asap Karhutla di Pekanbaru Kabut asap karhutla melanda Kota Pekanbaru menyebabkan ratusan kasus ISPA hingga Agustus 2026(MI/Rudi Kurniawansyah)

DINAS Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru mencatat sebanyak 376 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi akibat dampak kabut asap kebakaran rimba dan lahan (Karhutla) sejak awal Agustus 2026. 

Temuan ratusan kasus penyakit pernapasan tersebut tersebar dan mendapatkan penanganan medis di sejumlah akomodasi jasa kesehatan di seluruh wilayah Kota Pekanbaru.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Pekanbaru, Edi Satriawan, mengatakan bahwa kebanyakan pasien nan terdata mengalami indikasi ISPA kategori Non-Pneumonia. Pihaknya mengonfirmasi bahwa sebagian besar masyarakat mengeluhkan gangguan kesehatan berupa batuk, pilek, hingga radang tenggorokan.

"Yang pneumonia hanya sembilan orang, selebihnya non-pneumonia," kata Edi Satriawan, Kamis (20/8).

Ia menjelaskan, jumlah nomor penanganan kasus ISPA pada bulan sebelumnya mencatatkan jumlah nan jauh lebih tinggi. Pada Juli 2026, pusat jasa medis setempat menangani sebanyak 5.325 kasus ISPA nan juga didominasi oleh kategori Non-Pneumonia.

"Sedangkan nan mengalami ISPA kategori pneumonia pada Juli lampau hanya 20 kasus," jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap akibat paparan kebakaran rimba dan lahan. Agung menjelaskan bahwa kejadian El Nino turut memicu kondisi suhu udara di wilayah perkotaan menjadi lebih panas dan kering dari biasanya.

Suhu udara harian di Kota Pekanbaru dilaporkan dapat mencapai 32 derajat Celsius selama periode kejadian suasana tersebut berlangsung. Atas kondisi geografis ini, pemerintah wilayah mendorong penduduk agar memprioritaskan tindakan pencegahan guna menjaga kondisi fisik.

"Karena suhu kering dan panas meningkat, masyarakat kudu menjaga kesehatan, itu nan utama," ujarnya.

Ia memaparkan bahwa langkah antisipasi dapat dilakukan dengan langkah membatasi intensitas aktivitas di luar ruangan selagi kondisi kualitas udara di Pekanbaru tetap berfluktuasi. 

“Imbauan tersebut diharapkan bisa menekan nomor penderita gangguan pernapasan di tengah ancaman asap dan cuaca ekstrem,” pungkasnya. (H-4)

Selengkapnya