42 Juta Penduduk Jabodetabek Butuh Integrasi Transportasi Lintas Wilayah

12 jam yang lalu 5
42 Juta Penduduk Jabodetabek Butuh Integrasi Transportasi Lintas Wilayah Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia Gonggomtua E Sitanggang.(Dok. MI)

JUMLAH masyarakat Jabodetabek nan mencapai sekitar 42 juta jiwa memerlukan sistem transportasi nan terintegrasi lintas wilayah. Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia Gonggomtua E Sitanggang mengatakan pengembangan transportasi publik di Jakarta perlu diikuti wilayah Bodetabek.

Berdasarkan info nan dikutip ITDP, jumlah masyarakat Jabodetabek mencapai sekitar 42 juta jiwa pada 2025. Besarnya populasi tersebut melangkah beriringan dengan tingginya mobilitas antarwilayah.

“Sekitar 1,5 juta perjalanan komuter berasal dari Bodetabek menuju Jakarta berasas Statistik Komuter Jabodetabek 2023,” bebernya di Jakarta Selatan, Kamis (20/8).

Kondisi itu menunjukkan Jakarta dan wilayah penyangga mempunyai hubungan mobilitas nan sangat erat. Karena itu, penyediaan transportasi publik perlu dirancang sebagai satu sistem kawasan, bukan terpisah berasas pemisah administrasi.

“Jakarta sendiri menargetkan mode share transportasi publik mencapai 55% pada 2045. ITDP menilai sasaran tersebut perlu diikuti wilayah Bodetabek,” bebernya.

Sementara, Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia sekaligus Kepala Research Center for Climate Change (RCCC) Budi Haryanto mengatakan paparan PM2.5 berisiko serius bagi kesehatan masyarakat, terutama golongan rentan.

Paparan PM2.5 dapat memicu ISPA, penyakit jantung iskemik, influenza, pneumonia, hingga penyakit kronis saluran pernapasan. Partikel lembut juga dapat masuk ke organ vital.

“Pengendalian emisi perlu disertai upaya radikal dalam mengurangi paparan, terutama bagi golongan rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu,” kata Budi.

Tim peneliti Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah (KK PUL)-FTSL-ITB Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan support Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) merekomendasikan lima langkah.

Direktur Eksekutif ViriyaENB Suzanty Sitorus mengatakan studi tersebut telah memetakan sumber polusi udara dan prioritas pengendaliannya. Pemerintah selanjutnya perlu menerjemahkan temuan itu menjadi sasaran penurunan emisi dan pembagian tanggung jawab nan jelas.

“Jabodetabek memerlukan satu kerangka strategi kualitas udara lintas wilayah nan dapat dipantau dan dipertanggungjawabkan,” ujar Suzanty.

Pertama, pemerintah segera membentuk tata kelola pengendalian polusi nan bisa mengoordinasikan kebijakan lintas wilayah dan sektor. 

Hal itu dapat diperkuat melalui Dewan Kawasan Aglomerasi sesuai UU Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Kedua, kualitas udara kudu menjadi parameter keahlian pembangunan nasional, daerah, dan sektor usaha.

Ketiga, pengendalian emisi diperkuat melalui percepatan kendaraan rendah emisi, penggunaan BBM rendah sulfur, pengendalian emisi industri dan pembangkit, ekspansi transportasi publik, serta penghentian pembakaran sampah terbuka. Pemerintah juga perlu menetapkan sasaran penurunan emisi berbareng di Jabodetabek.

Keempat, pemantauan kualitas udara diperkuat dan datanya dibuka secara transparan agar mudah diakses pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Kelima, kebijakan pengendalian polusi kudu berbasis info dan melibatkan akademisi, lembaga penelitian, serta masyarakat sipil. (H-3)

Selengkapnya