Jakarta, CNBC Indonesia - Bencana banjir bandang luar biasa dilaporkan melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China. Peristiwa mematikan ini telah menyapu kota, jalan, hingga jembatan vital.
Mengutip CNN International, Kamis (27/08/2026), musibah alam katastropik ini diduga kuat dipicu oleh longsoran es dan bebatuan besar. Nepal sendiri sekarang menjadi titik rawan musibah suasana seiring dengan meningkatnya suhu bumi.
Dampaknya kian meluas hingga melumpuhkan aktivitas perdagangan di wilayah tersebut. Upaya pengamanan lintas negara sekarang terus berpacu dengan waktu di tengah medan nan sangat sulit.
Berikut fakta-faktanya, termasuk info terbaru, dirangkum CNBC Indonesia:
1.165 Orang Tewas Tersapu Banjir
Mengutip pembaruan terbaru Kamis siang, banjir bandang ini telah menewaskan sedikitnya 165 orang di Nepal. Data ini disampaikan langsung oleh pihak kepolisian nasional setempat.
Jumlah korban tewas diperkirakan tetap bakal terus meningkat. Hal ini mengingat ratusan orang lainnya tetap dinyatakan lenyap terseret arus.
Lebih dari tiga lusin korban nan dievakuasi sekarang tengah menjalani perawatan intensif. Mereka dirawat di rumah sakit ibu kota Kathmandu dan distrik Rasuwa.
Nahasnya, turis mancanegara juga ikut terdampak dalam musibah alam ini. Sedikitnya 47 penduduk negara Amerika Serikat (AS) dilaporkan lenyap di letak kejadian.
2.1000 Orang Hilang
Dilaporkan gimana 1.000 orang lenyap di perbatasan Nepal dan Tibet setelah banjir dan tanah longsor. Kebanyakan dari mereka merupakan visitor asing.
Kementerian Pariwisata Nepal misalnya mengatakan sekitar 468 wisatawan, sekitar 393 di antaranya penduduk asing, putus komunikasi beberapa jam setelah bencana. Mereka termasuk 142 penduduk India, lampau beberapa penduduk Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan , Korea Selatan dan AS.
Dilaporkan pula gimana satu rombongan wisata terdiri dari 47 orang, termasuk ana-anak, tak ada berita usai banjir. Mereka terdiri dari 15 Warga Australia, 10 Warga Kanada, sembilan penduduk Nepal, dua penduduk Inggris, dua penduduk Singapura, saru penduduk Rusia-Amerika.
Media China sendiri menjelaskan setidaknya 558 orang lenyap di Pelabuhan Gyirong, Tibet. Sebanyak 260 di antaranya adalah penduduk asing.
3.Bak Tsunami
Sementara itu, banjir bandang dilaporkan Membawa aliran lumpur dan material bak tsunami. Air bergerak nyaris 170 kilometer (km) menyusuri Bhote Koshi hingga Nepal bagian tengah.
"Seperti tsunami darat... Ini merupakan jalur terkenal bagi visitor internasional nan berjalan dari Kathmandu ke Lhasa," kata sejarawan lingkungan dari La Trobe University, Ruth Gamble.
"Seluruh desa dan area pasar telah musnah," tambah kepala Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) di Nepal, David Fisher.
Palang Merah mengatakan pihaknya mengirimkan support darurat, termasuk selimut, perlengkapan pertolongan pertama, tandu, dan kantong jenazah. Pemerintah Tibet mengerahkan nyaris 800 pekerja tanggap darurat dan 150 kendaraan, serta anjing pencari dan perahu sigap untuk membantu upaya penyelamatan, menurut instansi buletin pemerintah China, Xinhua.
4.Bukan Dipicu Gempa Tapi...
Survei Geologi AS (USGS) awalnya melaporkan adanya gempa bumi M 4,4 pada Rabu pagi. Ini menjadi awal dari banjir bandang di Nepal dan Tibet.
Namun, USGS kemudian menjelaskan bahwa getaran tersebut bukanlah gempa tektonik biasa. Getaran dahsyat itu rupanya dihasilkan langsung oleh longsoran masif gletser dan bebatuan.
Kekuatannya dicatat sangat merusak dan setara dengan gempa berkekuatan M 5,2. Tim intelektual internasional menduga sebongkah besar gletser telah terlepas dari gunung.
Longsoran itu jatuh ke Sungai Lhende Khola. Hal ini kemudian memicu gelombang banjir bandang.
5.Jalur Dagang Rp 35 T Hancur
Banjir ekstrem ini merusak prasarana perdagangan krusial di perbatasan. Salah satunya adalah Pelabuhan Gyirong nan memfasilitasi sepertiga perdagangan kedua negara.
Kerusakan ini menakut-nakuti penghentian aktivitas ekonomi berbobot fantastis. Pada 2024 lalu, total nilai perdagangan China-Nepal menembus lebih dari US$ 2 miliar (Rp 35,4 triliun).
6.Evakuasi Masih Sulit
Upaya pemindahan tim penyelamat tetap sulit. Perjalanan dari China menuju Gyirong misalnya, tetap terhalang.
"Tepi tanah longsor berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pelabuhan Gyirong, dan ketebalan tanah longsor mencapai nyaris 1,5 meter pada bagian tepinya," papar koresponden CCTV, Wang Qian.
"Hal ini membikin upaya pengamanan selanjutnya menjadi sangat sulit," tambahnya.
7.Kucuran Bantuan
Merespons tragedi ini, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan pengiriman biaya bantuan. Bantuan kemanusiaan darurat itu berbobot US$ 500.000 (Rp 8,85 miliar).
Dana ini bakal disalurkan melalui organisasi nirlaba Catholic Relief Services. Bantuan difokuskan untuk penyediaan tempat tinggal darurat, sanitasi, dan air bersih bagi pengungsi.
Selain itu, AS juga mengirimkan penasihat respons support musibah langsung ke lokasi. Kedutaan Besar AS di Kathmandu turut bekerja sama dengan otoritas lokal untuk mencari warganya.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·