ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi bentrok Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Teheran melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk nan menjadi letak pangkalan militer AS. Serangan itu disebut sebagai jawaban atas operasi militer Washington terhadap pelabuhan dan pulau-pulau Iran di Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang Armada Kelima AS di Bahrain, pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait, serta pangkalan udara Azraq di Yordania menggunakan drone dan rudal jarak jauh. IRGC menyebut pihaknya menargetkan 21 akomodasi militer AS dan menghancurkan empat di antaranya, termasuk hanggar jet tempur F-35 di Yordania.
Namun, otoritas Bahrain, Kuwait, dan Yordania menyatakan seluruh proyektil sukses dicegat sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Berikut tujuh perkembangan terbaru bentrok AS-Iran, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (10/7/2026).
1. Iran Balas Serangan AS dengan Menyerang Negara Arab
Iran menyatakan serangan ke Bahrain, Kuwait, dan Yordania dilakukan sebagai respons atas operasi militer AS terhadap Pulau Qeshm serta sejumlah pelabuhan di pesisir Selat Hormuz. Washington sebelumnya menuduh Teheran bertanggung jawab atas jatuhnya sebuah helikopter Apache AS.
IRGC juga memperingatkan bahwa pasukannya siap memberikan respons nan lebih besar andaikan AS kembali melakukan serangan. "Pasukan kami sepenuhnya siap memberikan respons nan menghancurkan dan menentukan terhadap tindakan militer AS," demikian pernyataan IRGC.
2. Trump Ancam Iran Akan 'Membayar Harganya'
Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran bakal menghadapi akibat atas serangan tersebut. Dalam unggahan di media sosial, Trump menuduh Teheran sengaja memperlambat proses negosiasi damai.
"Mereka terlalu lama bermusyawarah untuk kesepakatan nan bakal sangat menguntungkan mereka. Sekarang mereka kudu bayar harganya," tulis Trump berbanding terbalik dengan komentarnya sehari sebelumnya nan menyebut kedua pihak hanya tinggal dua hingga tiga hari lagi mencapai kesepakatan.
3. Palestina Kutuk Serangan ke Bahrain, Kuwait, dan Yordania
Kantor Presiden Palestina Mahmoud Abbas turut mengecam serangan Iran terhadap Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Dalam pernyataan resminya, Palestina menyampaikan solidaritas kepada ketiga negara tersebut dan menegaskan dukungannya terhadap setiap langkah nan diambil untuk mempertahankan kedaulatan masing-masing.
4. Netanyahu dan Trump Bahas Situasi Teluk
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Trump melakukan pembicaraan melalui telepon untuk membahas perkembangan terbaru di area Teluk. Menurut instansi Netanyahu, kedua pemimpin sepakat melanjutkan koordinasi di beragam sektor. Trump juga memberikan pembaruan mengenai langkah-langkah militer AS di area sementara Netanyahu menyoroti meningkatnya ancaman terhadap Israel serta pentingnya menjaga area keamanan di sepanjang perbatasan negaranya.
5. Wilayah Militer Iran Kembali Diserang
Ketegangan juga bersambung di dalam wilayah Iran. Gubernur Konarak, Mohammad Younes Haqqani, mengatakan area militer angkatan laut di kota Konarak, Iran selatan, menjadi sasaran serangan jet tempur dalam dua gelombang.
"Dua ledakan terdengar di area militer angkatan laut dan wilayah tersebut menjadi sasaran jet tempur musuh dalam dua tahap," ujar Haqqani. Ia menambahkan tim penyelamat dan abdi negara keamanan telah dikerahkan, sementara investigasi atas serangan tersebut tetap berlangsung.
6. AS Klaim Selat Hormuz Tetap Aman
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah klaim Iran nan menyebut Teheran mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, CENTCOM menegaskan Iran tidak menguasai jalur pelayaran strategis tersebut.
Sejak awal Mei, militer AS menyatakan telah membantu kelancaran pelayaran lebih dari 800 kapal jual beli serta pengiriman sekitar 380 juta barel minyak mentah melalui koridor perdagangan internasional itu.
7. Pasar dan Rusia Ikut Terdampak Konflik
Di tengah meningkatnya ketegangan, indeks NASDAQ justru ditutup menguat berkah reli saham perusahaan semikonduktor, meski pelaku pasar tetap mencermati akibat bentrok nan lebih luas.
Sementara itu, Rusia mencatat surplus anggaran bulanan pertama tahun ini sebesar 279 miliar rubel alias sekitar US$3,7 miliar (setara sekitar Rp66,2 triliun dengan kurs Rp17.900 per US$). Kenaikan pendapatan tersebut didorong lonjakan penerimaan minyak dan gas selama bentrok berlangsung.
Namun, Bloomberg memperkirakan untung itu hanya berkarakter sementara lantaran nilai minyak Rusia kembali turun setelah Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada bulan sebelumnya.
Di sisi lain, pengeluaran pemerintah Rusia sepanjang enam bulan pertama tahun ini mencapai US$320 miliar, alias sekitar Rp5.728 triliun, seiring tingginya biaya perang nan tetap berjalan di Ukraina.
(tfa/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·