ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan secara tegas menolak segala corak seruan untuk menegosiasikan perdamaian dengan Kyiv. Hal ini terjadi saat Ukraina masih terus melancarkan serangan ke kilang minyak Moskow nan membikin Negeri Beruang Putih Krisis BBM.
Dua sumber anonim menyebut adanya probabilitas nan sangat tinggi bahwa Putin bakal meluncurkan eskalasi militer besar-besaran dalam beberapa bulan ke depan guna memecah kebuntuan perang nan sekarang telah memasuki tahun kelima. Sementara itu, tiga sumber nan dekat dengan Kremlin mengungkapkan bahwa rentetan serangan pesawat tanpa awak (drone) Ukraina nan sukses menghancurkan kilang minyak dan pelabuhan Rusia justru kian mempertebal ambisi Putin untuk terus mengobarkan peperangan.
Fokus utama dari rencana eskalasi militer Putin saat ini difokuskan penuh untuk merebut sisa wilayah Donbas di Ukraina timur nan dia posisikan sebagai nilai meninggal untuk sebuah kemenangan prinsipil bagi Rusia. Guna memuluskan sasaran tersebut, master militer Rusia apalagi mulai mendiskusikan opsi ekspansi sasaran serangan udara secara radikal, termasuk potensi menggempur pangkalan-pangkalan NATO di negara-negara Baltik dan Rumania nan berisiko menyeret aliansi barat ke dalam konfrontasi bersenjata secara langsung.
Di sisi lain, laporan intelijen senior Ukraina menunjukkan bahwa pergerakan Moskow belakangan ini sama sekali tidak mencerminkan persiapan menuju meja perundingan. Militer Rusia justru terindikasi sedang memobilisasi pasukan untuk menggelar operasi baru nan diprediksi bisa meluas hingga ke luar perbatasan Ukraina.
"Para orang Rusia tidak bakal menargetkan perang dengan NATO. Tetapi perihal itu dapat digunakan untuk memecah belah NATO tentang gimana merespons," ungkap Jack Watling dari Royal United Services Institute (RUSI) London.
Langkah keras Moskow ini mencuat tepat setelah Trump menyatakan bahwa resolusi perdamaian sudah berada di depan mata pasca-melakukan panggilan telepon terpisah dengan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Sejauh ini, Moskow tetap membuka gestur untuk memperluas serangan.
"Rusia siap untuk penyelesaian tenteram tetapi mempunyai keahlian nan cukup untuk bertindak secara indenpenden dan melanjutkan operasi militer khusus," tegas Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
Perang Urat Syaraf di Garis Depan
Di medan tempur darat, jalannya peperangan tetap berjalan sangat sengit dan melelahkan di sepanjang 1.200 kilometer garis depan akibat efektivitas drone Ukraina nan bisa meredam kelebihan jumlah personel militer Rusia.
Konfrontasi bersenjata belakangan ini berpusat di kota Kostiantynivka, sebuah tembok pertahanan krusial di wilayah Donetsk, di mana Putin sempat menyatakan pasukannya telah menguasai kota tersebut pada hari Jumat (03/07/2026) namun langsung dibantah keras oleh pihak militer Kyiv.
Berdasarkan perkiraan dari Center for Strategic & International Studies (CSIS), total korban jiwa, luka-luka, dan lenyap dari kedua belah pihak sejak awal invasi telah menembus nomor dahsyat sekitar 2 juta tentara, dengan 1,4 juta di antaranya berasal dari kubu Rusia.
Guna mengejar sasaran penguasaan penuh sisa wilayah Donetsk, beberapa analis militer barat memprediksi Putin pada akhirnya kudu berani mengambil keputusan politik nan tidak terkenal secara domestik, ialah menerapkan wajib militer massal bagi para laki-laki di Rusia.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·