Ada 'Bensin' Baru, Singapura Naikkan Proyeksi Ekonomi 2026

51 menit yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Singapura meningkatkan tajam proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 setelah keahlian ekonomi pada paruh pertama tahun ini melampaui ekspektasi. Perkembangan sektor mengenai kepintaran buatan (AI) dan ekspor menjadi salah satu pendorong utama.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) sekarang memperkirakan ekonomi negara tersebut tumbuh 4,5%-5,5% pada 2026, naik signifikan dari proyeksi sebelumnya sebesar 2%-4%. Proyeksi terbaru tersebut menjadi revisi kenaikan kedua nan dilakukan Singapura sepanjang tahun ini.

Sebelumnya, pada awal 2026, MTI tetap memperkirakan ekonomi hanya tumbuh 1%-3%. MTI mengatakan peningkatan proyeksi mencerminkan keahlian ekonomi nan lebih kuat dari perkiraan selama paruh pertama 2026, terutama didorong oleh sektor-sektor nan berangkaian dengan AI serta ekspor.

Ekonomi Singapura juga menunjukkan performa nan lebih kuat pada kuartal II-2026. Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 5,9% secara tahunan, direvisi naik dari perkiraan awal sebesar 5,7%.

Pertumbuhan pada periode tersebut terutama ditopang oleh tiga sektor. Meliputi sektor manufaktur, perdagangan grosir, serta finansial dan asuransi.

Dampak Perang AS-Iran Lebih Ringan

MTI juga menilai akibat bentrok Amerika Serikat (AS)-Iran terhadap perekonomian Singapura sejauh ini lebih ringan dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan nilai daya dunia dinilai tetap dapat diredam lantaran negara-negara menggunakan persediaan minyak nan tersedia dan beranjak ke sumber daya alternatif.

Kondisi tersebut membantu membatasi tekanan terhadap biaya daya Singapura nan sangat berjuntai pada perdagangan dan impor. Meski demikian, tekanan inflasi tetap menjadi perhatian.

Bank Sentral Singapura, Monetary Authority of Singapore (MAS), secara mengejutkan memperketat kebijakan moneternya pada akhir Juli. MAS sebelumnya memperingatkan bahwa biaya impor Singapura berpotensi meningkat dalam beberapa kuartal mendatang akibat kenaikan nilai bahan bakar dan input elektronik.

Kondisi cuaca nan tidak menguntungkan di negara-negara pemasok juga dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai impor.

Inflasi inti Singapura, nan tidak memasukkan biaya akomodasi dan transportasi, naik menjadi 1,6% pada Juni, dari 1,4% pada Mei. Sementara inflasi utama berada di level 1,9%.

Angka tersebut tetap berada di dekat pemisah bawah kisaran proyeksi inflasi inti MAS sebesar 1,5%-2,5% untuk tahun ini.

Dengan pertumbuhan ekonomi nan lebih kuat dari perkiraan, pemerintah Singapura sekarang mempunyai ruang lebih besar untuk menghadapi tekanan inflasi sekaligus menjaga momentum ekonomi hingga akhir 2026.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya