Airlangga Ungkap Anomali Perdagangan RI-AS, Naik 18% Usai Tarif Baru

55 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara nan sukses mencapai kesepakatan perjanjian tarif timbal kembali (agreement on reciprocal tariff) dengan Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia dan memanasnya perang jual beli antarnegara.

"Saya tidak mau membahas soal perang jual beli secara mendalam, namun menurut saya Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara nan bisa mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat mengenai tarif imbal balik," kata Airlangga dikutip dari Detikcom, dalam aktivitas Industrial Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Airlangga menilai kesepakatan tersebut telah memberikan akibat positif terhadap hubungan jual beli kedua negara. Di tengah meningkatnya tensi perdagangan global, nilai perdagangan Indonesia dengan AS justru menunjukkan peningkatan signifikan.

Menurutnya, perdagangan Indonesia-AS tumbuh nyaris 18%, sebuah capaian nan dinilai berlawanan dengan tren perlambatan perdagangan nan dialami banyak negara akibat perang dagang.

"Hal ini merupakan suatu anomali. Terlepas dari adanya perang dagang, perdagangan kita dengan AS justru meningkat nyaris 18%," ujarnya.

Selain memperkuat hubungan jual beli dengan AS, pemerintah juga terus memperluas akses pasar melalui beragam perjanjian perdagangan internasional. Salah satu nan menjadi konsentrasi saat ini adalah Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Airlangga mengatakan proses ratifikasi IEU-CEPA diharapkan dapat dilakukan oleh Parlemen Uni Eropa pada September hingga akhir tahun ini.

"Salah satu kerja sama besar CEPA kita adalah dengan Uni Eropa, nan diharapkan pada bulan September alias akhir tahun ini dapat diratifikasi oleh Parlemen Uni Eropa," katanya.

Meski demikian, proses finalisasi perjanjian tersebut tetap menghadapi sejumlah tantangan teknis. Salah satunya mengenai penggunaan bahasa resmi arsip perjanjian nan selama ini hanya tersedia dalam Bahasa Inggris.

Menurut Airlangga, kondisi tersebut tidak lazim bagi sejumlah negara personil Uni Eropa sehingga pemerintah Indonesia tengah mencari jalan tengah agar penerapan perjanjian dapat dilakukan sesuai target.

"Meskipun terdapat hambatan tidak umum lantaran arsip hanya disediakan dalam Bahasa Inggris, kami mencoba menjadikannya kompromi dengan negara-negara Uni Eropa agar dapat diimplementasikan pada awal tahun depan," ujarnya.

Lebih lanjut, Airlangga mengungkapkan Indonesia saat ini telah mempunyai sekitar 25 perjanjian kerja sama ekonomi dengan beragam negara dan kawasan. Selain itu, terdapat 13 proses negosiasi perjanjian perdagangan lainnya nan tetap berjalan.

Menurutnya, ekspansi jaringan kerja sama ekonomi tersebut menjadi salah satu strategi utama Indonesia untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah beragam tantangan global, mulai dari pandemi, bentrok geopolitik, hingga gejolak perdagangan internasional.

"Jadi, menurut saya saat ini kita hidup di bumi dunia nan penuh tantangan. Kita menghadapi pandemi, perang, dan beragam peristiwa nan terjadi secara berkali-kali dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun terakhir, namun kita tetap kudu mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat kita," kata Airlangga.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya