Airlangga Ungkap Arah Kebijakan Ekonomi 2027: Bursa Mineral-PFII

51 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan arah kebijakan ekonomi pemerintah pada 2027. Hal ini termasuk mesin pertumbuhan dan bauran kebijakan makro.

Menurut Airlangga, ada tiga mesin pertumbuhan. Pertama, sektor berbobot tambah tinggi, seperti digitalisasi, semikonduktor dan artificial intelligence (AI). Ini dilakukan untuk memperkuat nilai tambah keterkaitan antarsektor, termasuk ekosistem motor listrik nasional.

"Kedua, revitalisasi sektor ekonomi alias resilien seperti pertanian dan energi, termasuk pendirian bursa mineral. Indonesia mempunyai nilai sendiri sebagai reference price," kata Airlangga, Jumat (14/8/2026).

Ketiga, peningkatan daya saing investasi dan ekspor melalui deregulasi dan debottlenecking, optimasi perjanjian nasional dan pembentukan Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII).

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan bauran kebijakan makro, fiskal, moneter dan investasi nan melibatkan BPI Danantara dan sektor swasta. Adapun, arah kebijakan ekonomi ini ditopang oleh empat prasyarat utama, investasi nan atraktif, kepastian regulasi, stabilitas makro dan APBN nan pruden dan stabil.

Asumsi Dasar Ekonomi Makro RAPBN 2027

  • Pertumbuhan ekonomi: 6,0%
  • Inflasi: 2,5%
  • Nilai tukar rupiah: Rp17.500 per US$
  • Suku kembang SBN 10 tahun: 6,9%
  • Harga minyak mentah Indonesia (ICP): US$75 per barel
  • Lifting minyak mentah: 610.000 barel per hari
  • Lifting gas bumi: 954.000 barel setara minyak per hari

Postur dan Fiskal RAPBN 2027

  • Pendapatan negara: Rp3.426 triliun
  • Belanja negara: Rp4.097 triliun
  • Defisit anggaran: Rp671,2 triliun alias 2,40% dari PDB

Sasaran Pembangunan 2027

  • Tingkat kemiskinan: Turun ke kisaran 6,0%-6,5%
  • Tingkat pengangguran terbuka: 4,30%-4,87%
  • Rasio Gini: 0,362-0,367
  • Indeks modal manusia: 0,575
  • Indeks kesejahteraan petani: 0,8038
  • Penciptaan lapangan kerja formal: 40,81%

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya