Airlangga Ungkap Deretan 'Mesin' yang Bakal Pacu Ekonomi RI 6%

52 menit yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mendekati 6% hingga akhir 2026. Target tersebut dipasang setelah ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026.

Airlangga mengatakan capaian tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun terakhir dan termasuk nan terbaik di antara negara-negara personil G20.

"Semester I ini kita tumbuh 5,45%, dan ini adalah pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir, termasuk di antara negara G20. Jadi menjelang sampai akhir tahun Bapak Presiden meminta kita mendorong agar mendekati 6% di akhir tahun. Dan tentu ini bisa menjadi tantangan dan juga kudu kerja keras," kata Airlangga, dikutip Senin (24/8/2026).

Menurut Airlangga, perekonomian dunia tetap dibayangi beragam tantangan, mulai dari bentrok geopolitik, ketegangan di Selat Hormuz, hingga perang jual beli nan memengaruhi arus perdagangan dan investasi dunia.

Meski demikian, dia menilai kondisi fiskal Indonesia tetap berada dalam posisi nan kuat. Pendapatan negara tumbuh 21,3% dibandingkan periode nan sama tahun lalu, sementara shopping negara meningkat 18,2%. Di sisi lain, defisit anggaran tetap terjaga di level 0,91% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Untuk 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% dengan inflasi 2,5%, suku kembang Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,9%, serta nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.500 per dolar AS.

Dalam rancangan tersebut, pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp3.426 triliun, sedangkan shopping negara diproyeksikan sebesar Rp4.097,2 triliun. Dengan kebutuhan pembiayaan Rp671,2 triliun, defisit APBN diperkirakan berada di level 2,4% terhadap PDB.

Pemerintah juga menargetkan tingkat pengangguran terbuka berada pada kisaran 4,30%-4,87%, tingkat kemiskinan 6,0%-6,5%, dan rasio gini 0,362-0,367.

Airlangga menegaskan, untuk mengerek pertumbuhan ekonomi dari 5,45% menjadi mendekati 6%, diperlukan sumber pertumbuhan baru nan lebih kuat. Salah satunya melalui percepatan investasi, terutama pada proyek-proyek berbobot tambah tinggi nan memanfaatkan rantai pasok domestik.

Selain itu, peningkatan produktivitas sumber daya manusia dan penguatan ekspor berbobot tambah juga menjadi strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nan lebih tinggi.

"Peningkatan produktivitas SDM, investasi nan lebih tinggi dari pertumbuhan PDB, serta ekspor nan didukung efisiensi logistik menjadi kunci untuk mencapai sasaran tersebut," ujarnya.

Enam Mesin Pertumbuhan Baru

Dalam kesempatan itu, Airlangga juga memaparkan enam mesin pertumbuhan baru nan tengah didorong pemerintah.

Pertama, hilirisasi dan upstreaming nan saat ini telah mencatat 26 proyek groundbreaking. Kedua, swasembada daya melalui penerapan biodiesel B50 nan mulai bertindak sejak 1 Juli 2026.

Ketiga, pengembangan ekosistem bullion dan bank emas nan saat ini mengelola sekitar 179 ton emas dengan nilai mencapai Rp360 triliun.

Keempat, penguatan tata kelola devisa hasil ekspor sumber daya alam melalui Danantara Sumberdaya Indonesia. Kelima, pengembangan sektor digital, semikonduktor, dan artificial intelligence (AI). Keenam, pengembangan area ekonomi unik (KEK) dan area industri sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Di sisi sumber daya manusia, pemerintah juga terus memperluas program magang untuk lulusan pendidikan tinggi dan vokasi. Saat ini program tersebut menargetkan 150 ribu peserta dan bakal ditingkatkan menjadi 250 ribu peserta.

Pemerintah juga melanjutkan ekspansi akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program pembiayaan ultra mikro. Khusus bagi pelaku upaya perempuan, pemerintah menurunkan kembang pembiayaan PNM Mekaar dari 18% menjadi 8% untuk pinjaman hingga Rp15 juta.

Selain itu, pemerintah terus memperluas akses pasar melalui diplomasi ekonomi. Hingga saat ini Indonesia telah mempunyai 25 perjanjian jual beli nan telah diratifikasi, sementara 13 perjanjian lainnya tetap dalam tahap negosiasi.

Airlangga juga mengungkapkan proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terus menunjukkan kemajuan. Indonesia telah menyampaikan laporan untuk 20 dari 24 bab nan dipersyaratkan alias sekitar 75% dari keseluruhan proses.

"Kita kudu bekerja bersama-sama, sehingga apa nan kita capai betul-betul bisa dinikmati oleh seluruh stakeholders. Dengan esensial ekonomi nan kuat, kebijakan fiskal nan prudent, dan kebersamaan antara pemerintah dan bumi usaha, kita mau menjaga ketahanan ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan nan lebih tinggi dan inklusif," kata Airlangga.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya