Airlangga Ungkap Rencana RI Rebut Dana yang Kini Parkir di Singapura

1 jam yang lalu 2

Bogor, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengungkapkan pemerintah telah membentuk pusat finansial internasional di Indonesia agar nantinya biaya dari penanammodal asing bisa masuk lebih leluasa ke Indonesia.

Airlangga mengatakan atas pengarahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah membentuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), di mana saat ini sudah ada undang-undang nan mengatur PFII.

"Belum lama ini, diputuskan oleh Presiden Prabowo adalah persiapan Indonesia untuk membikin financial center. Nah financial center ini diharapkan bisa menarik investasi di bumi ke Indonesia," kata Airlangga dalam paparannya di Sidang Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Kamis (27/8/2026).

Airlangga mencontohkan beberapa pusat finansial internasional dunia nan cukup sukses, seperti di Singapura (Singapore International Financial Center/SIFC), Hong Kong, dan Dubai (Dubai International Financial Center/DIFC).

Bahkan, Airlangga menyebut DIFC sukses menarik investasi asing hingga mencapai US$ 800 miliar.

"Dubai (DIFC) sukses menarik sekitar US$ 800 miliar untuk investasi, sedangkan Singapura (SIFC) itu lebih dari US$ 5 triliun," terang Airlangga.

Pihaknya berambisi dengan adanya PFII, sebagian biaya asing global, termasuk nan ada di pusat finansial internasional Singapura dapat masuk ke dalam PFII.

"Kita berambisi dengan adanya financial center di Indonesia biaya ini sebagian bisa kita tarik ke Indonesia," ujar Airlangga.

Sebelumnya, Airlangga juga mengatakan pemerintah telah menetapkan letak awal PFII di Jakarta agar pusat finansial internasional tersebut bisa segera beroperasi.

"Sudah (lokasi sudah ditentukan), tahap awal di Jakarta," kata Airlangga Kamis (20/8/2026).

Meski demikian, Airlangga belum mengungkapkan letak spesifik nan bakal digunakan sebagai instansi awal PFII.

Sementara itu, rencana pembangunan PFII di Bali tetap terus dikaji pemerintah. Menurut Airlangga, salah satu letak nan sedang dievaluasi berada di lahan milik Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

"Bali dalam evaluasi, di salah satu letak milik Danantara," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memperkirakan nilai investasi nan masuk ke PFII bisa mencapai lebih dari Rp500 triliun, andaikan insentif dan akomodasi nan ditawarkan bisa menarik minat penanammodal global.

"Kalau itu menarik dan sukses mungkin bisa lebih besar daripada itu (Rp500 triliun)," kata Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (11/8/2026) lalu.

Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa proyeksi investasi tersebut tetap berkarakter awal. Perhitungan lebih rinci mengenai potensi investasi nan dapat dihimpun PFII nantinya bakal dilakukan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai pihak nan menyiapkan modal awal pengembangan area tersebut.

"Itu kelak Danantara nan hitung," tegasnya.

(chd/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya