Pekerja Pertamina Hulu Mahakam memandang proses pengerjaan proyek Bekapai Artificial Lift di anjungan lepas pantai lapangan Bekapai, Kalimantan Timur, Rabu (27/3/2024).(ANTARA/Hafidz Mubarak A)
KALANGAN akademisi menilai sasaran peningkatkan produksi siap jual (lifting) minyak nasional sebesar 610 ribu barel per hari (bph) pada 2027 nan dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sebagai tantangan realistis di tengah penurunan alamiah sumur-sumur minyak tua.
Kendati demikian, strategi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melalui percepatan eksplorasi greenfield, penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), serta perbaikan suasana investasi dinilai sudah berada di jalur nan tepat (on the right track).
Pakar Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata, mengungkapkan bahwa penetapan nomor 610 ribu bph dalam RAPBN 2027 mempunyai makna strategis bagi posisi tawar Indonesia di tingkat global.
“Target 610.000 barel per hari pada RAPBN 2027 mempunyai kegunaan sebagai pertahanan dasar (defensive baseline) untuk menjaga daya tawar (bargaining power) Indonesia di tengah volatilitas pasar global,” kata Bonti, melalui keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Bonti memaparkan bahwa langkah Kementerian ESDM mengombinasikan optimasi sumur eksisting, pembukaan wilayah kerja hulu baru, serta pemangkasan perizinan investasi sukses menjawab persoalan struktural penurunan hulu migas. Selain itu, dia menegaskan bahwa penguatan produksi domestik secara langsung bakal memangkas beban impor minyak dan menekan laju defisit anggaran.
“Kemampuan menahan alias membalikkan tren penurunan produksi minyak nan berjalan bertahun-tahun adalah bukti sah berjalannya reformasi struktural,” tegas Bonti.
UGM Dorong Konsistensi Teknologi dan Percepatan Blok Masela
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menggarap potensi migas nasional, termasuk optimasi sumur rakyat dan teknologi hulu. Untuk menopang pasokan daya jangka panjang, Fahmy mendorong percepatan proyek-proyek raksasa nasional, salah satunya pengembangan Blok Masela di Maluku.
“Kalau gas memang potensinya tetap besar dan tersebar di beragam daerah, termasuk Masela. Kalau Pertamina masuk di Masela, maka ini bakal mempercepat produksi dan menghasilkan gas nan menjadi pendapatan bagi negara,” tutur Fahmy.
Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto memasang sasaran pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen. Di sektor energi, pemerintah mematok sasaran lifting minyak 610 ribu bph dan lifting gas sebesar 954 ribu barel setara minyak per hari.(H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·