Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., berbincang dan menyerahkan support kepada masyarakat nan terdampak gempa M 7,7 Flores di Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (21/8).(BNPB)
AKSES menuju Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai pulih setelah sempat terputus akibat material longsor pascagempa magnitudo 7,7 nan mengguncang area tersebut pekan lalu.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meninjau langsung Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Jumat (21/8/2026) guna memastikan support serta support pemerintah menjangkau masyarakat kepulauan.
Sebanyak tiga unit ekskavator telah dikerahkan ke letak untuk membersihkan material longsor nan menutup akses utama. Terbukanya jalan tersebut membikin mobilisasi support logistik dan aktivitas penduduk berangsur pulih.
“Beberapa hari nan lampau jalur akses sudah bisa kita lalui, setelah tiga perangkat berat dikerahkan. Akses nan sebelumnya tertutup longsor sekarang sudah mulai bisa dilewati,” kata Suharyanto, Sabtu (22/8).
Meski akses telah terbuka, sebagian penduduk tetap memilih mendirikan tenda di sekitar rumah lantaran cemas terhadap gempa susulan. BNPB meminta masyarakat tetap waspada, namun tidak perlu diliputi ketakutan berlebihan.
Menurut hasil kajian dan pemantauan BMKG, aktivitas gempa susulan menunjukkan kecenderungan menurun. Kekuatan gempa susulan juga diperkirakan tidak bakal menyamai gempa utama.
“Bapak ibu tidak perlu takut nan berlebihan. Karena menurut riset BMKG, guncangan gempa susulan itu terus menurun skalanya, tidak seperti pada gempa pertama sebelumnya,” ujarnya.
Seiring pulihnya akses, support untuk masyarakat Palue terus berdatangan. BNPB menyerahkan support sembako dan kebutuhan dasar lainnya kepada penduduk terdampak. Distribusi support bakal dilakukan secara berjenjang dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kondisi akses menuju wilayah kepulauan.
“Bantuan sudah masuk, tentunya mungkin tetap terbatas lantaran akses hanya bisa ditempuh menggunakan jalur laut dan udara menggunakan pesawat,” kata Suharyanto.
Kebutuhan pangan juga menjadi perhatian pemerintah. Karena Pulau Palue bukan wilayah penghasil beras, BNPB bakal bersinergi dengan Perum Bulog untuk memastikan pasokan beras bagi masyarakat selama satu bulan ke depan.
“Karena Pulau Palue bukan penghasil beras, maka selama satu bulan sementara beras bakal kita dukung melalui sinergi dengan Bulog,” ujarnya.
Selain support kebutuhan dasar, pemerintah memastikan support pemulihan rumah warga. Berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi, rumah rusak ringan bakal mendapat support Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang Rp30 juta. Untuk rumah rusak berat, pemerintah bakal menyediakan kediaman tetap.
Sambil menunggu kediaman tetap selesai dibangun, penduduk dengan rumah rusak berat dapat memperoleh biaya tunggu kediaman sebesar Rp600 ribu per kepala family alias memilih menempati kediaman sementara.
Dukungan pemindahan juga tetap disiagakan. Berdasarkan hasil perbincangan BNPB dengan masyarakat, saat ini tidak ada penduduk nan memerlukan pemindahan dari Pulau Palue. Namun, beragam armada telah disiapkan di Maumere dan dapat digerakkan sewaktu-waktu andaikan kondisi membutuhkan.
“Tadi dari hasil perbincangan dan info warga, sudah tidak ada lagi nan kudu dievakuasi. Di Maumere segala jenis armada sudah komplit sehingga jika dibutuhkan sewaktu-waktu sudah bisa kita pakai,” jelas Suharyanto.
Pemerintah memastikan penanganan pascagempa di Pulau Palue terus bersambung dari masa tanggap darurat menuju pemulihan. Terbukanya kembali akses, mengalirnya support logistik, serta support perbaikan rumah diharapkan membantu masyarakat kembali beraktivitas dan bangkit dari akibat gempa. (PO/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·