Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia upaya tetap menghadapi sejumlah halangan dalam melakukan perekrutan tenaga kerja. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Erwin Aksa, menyebut permintaan nan belum cukup kuat serta ketidakpastian biaya hingga kebijakan menjadi persoalan nan membikin perusahaan lebih berhati-hati menambah pekerja.
Menurut Erwin, keputusan perusahaan untuk merekrut tenaga kerja sangat berjuntai pada kepercayaan terhadap peningkatan order dan permintaan. Ketika konsumsi masyarakat tetap tertahan dan pasar ekspor belum pasti, perusahaan condong menahan perekrutan pegawai tetap.
"Perusahaan bakal merekrut andaikan mempunyai kepercayaan bahwa order dan permintaan bakal meningkat. Kalau konsumsi masyarakat tetap tertahan dan pasar ekspor belum pasti, perusahaan tentu lebih berhati-hati menambah pegawai tetap," kata Erwin kepada CNBC Indonesia, Rabu (19/8/2026).
Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan permintaan. Erwin mengatakan, perusahaan juga mempertimbangkan biaya daya dan logistik, biaya pembiayaan, produktivitas tenaga kerja, kepastian regulasi, serta beragam biaya kepatuhan sebelum menambah pekerja.
Karena itu, Erwin menilai pembuatan lapangan kerja memerlukan kepercayaan bumi upaya bahwa permintaan bakal tetap tumbuh dan kebijakan pemerintah tetap stabil. Ketika pengusaha memandang permintaan bakal tumbuh dan kebijakan tetap stabil, investasi dan perekrutan bakal mengikuti.
"Jadi, untuk menciptakan pekerjaan, pemerintah juga kudu menciptakan confidence. Kalau pengusaha percaya permintaan bakal tumbuh dan kebijakan stabil, investasi dan perekrutan bakal mengikuti," jelasnya.
Erwin menilai kondisi tersebut juga berangkaian dengan kualitas pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya mengejar nomor pertumbuhan, tetapi perlu memastikan pertumbuhan tersebut bisa menciptakan banyak pekerjaan.
"Kita memerlukan investasi nan banyak menciptakan pekerjaan. Jangan sampai investasi meningkat sangat tinggi secara nominal, tetapi terkonsentrasi pada sektor nan sangat padat modal sehingga penyerapan tenaga kerjanya terbatas," ucapnya.
Dengan demikian, Erwin menilai ukuran keberhasilan investasi ke depan semestinya tidak hanya dilihat dari besarnya nilai investasi nan masuk. Jumlah pekerjaan baru nan tercipta dari setiap investasi juga perlu menjadi indikator.
Untuk 2027, Erwin memandang kesempatan terbesar penyerapan tenaga kerja tetap berasal dari industri manufaktur padat karya seperti tekstil dan produk tekstil, dasar kaki, makanan dan minuman, furnitur, serta industri pengolahan lainnya.
Selain itu, terdapat potensi dari bangunan dan perumahan, perdagangan dan ritel, pariwisata dan hospitality, ekonomi kreatif, pertanian dan agroindustri, serta UMKM.
Senada dengan Erwin, Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira menilai sasaran tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,30%-4,87% pada 2027 cukup menantang, tetapi tetap realistis andaikan pertumbuhan ekonomi betul-betul berkarakter padat karya dan diikuti peningkatan kualitas pekerjaan.
Menurut Anggawira, tantangannya bukan hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga membawa lebih banyak pekerja ke sektor formal. Karena itu, ukuran keberhasilan perlu mencakup jumlah pekerjaan formal, tingkat bayaran riil, produktivitas, perlindungan pekerja, serta kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri.
Untuk penyerapan tenaga kerja, Anggawira memandang sejumlah sektor relatif paling siap, antara lain agroindustri dan pengolahan pangan, tekstil, dasar kaki, furnitur, manufaktur berorientasi ekspor, perumahan, serta bangunan dan prasarana dasar.
Selain itu, terdapat potensi dari pariwisata dan ekonomi kreatif, perdagangan, logistik, ekonomi digital, hilirisasi mineral dan energi, daya terbarukan, bioenergi, prasarana gas dan kelistrikan, serta ekonomi perawatan (care economy), termasuk kesehatan dan pendidikan.
Anggawira juga menilai hilirisasi perlu diperluas agar tidak hanya berfokus pada industri nan padat modal.
"Hilirisasi tetap penting, tetapi jangan hanya berakhir pada industri nan padat modal. Hilirisasi perlu diperluas ke pertanian, perkebunan, perikanan, dan ekonomi desa lantaran sektor-sektor tersebut mempunyai pedoman tenaga kerja nan jauh lebih luas," kata Anggawira saat dihubungi terpisah.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

44 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·