Jakarta, CNBC Indonesia - China mulai membuka jalur pelayaran baru melintasi Arktik menuju Eropa nan disebut "Jalur Sutra Es", di tengah gangguan pada sejumlah jalur laut strategis di Timur Tengah. Rute ini digadang-gadang dapat memangkas waktu pengiriman, tetapi juga membawa akibat geopolitik baru.
Jalur tersebut dioperasikan perusahaan pelayaran China, Sea Legend, dengan rute dari Ningbo di pesisir timur China, melewati Lingkar Arktik melalui Northern Sea Route (NSR) milik Rusia, kemudian menuju Laut Utara hingga Felixstowe, Inggris.
Perusahaan itu sebelumnya melakukan uji coba pada Oktober dan mencatat waktu tempuh sekitar 20 hari, jauh lebih singkat dibandingkan rute Terusan Suez sekitar 40 hari dan jalur via Tanjung Harapan sekitar 50 hari.
Chief Operating Officer Sea Legend Li Xiaobin mengatakan rute Arktik tersebut cocok untuk mengangkut peralatan nan sensitif terhadap suhu dan memerlukan waktu pengiriman cepat.
"Rute baru ini sangat cocok untuk kargo nan sensitif terhadap panas dan mempunyai tenggat waktu ketat, seperti baterai litium-ion dan produk fotovoltaik," ujarnya, mengutip Al Jazeera, Rabu (19/8/2026).
Namun, Jalur Sutra Es belum dapat menjadi pengganti permanen Terusan Suez. Rute tersebut sangat berjuntai pada kondisi es di Arktik dan terutama dapat digunakan ketika musim panas membikin wilayah perairan lebih mudah dilalui.
"Rute ini berjuntai pada kapan es mencair, nan menambah ketidakpastian," kata Dylan Loh, guru besar madya Kebijakan Publik dan Urusan Global di Nanyang Technological University, Singapura. Menurut dia, rute Arktik lebih tepat dipandang sebagai pelengkap musiman bagi jalur pelayaran utama.
Pencairan es memang membikin akses ke Arktik semakin terbuka. Studi peneliti University of Southampton nan diterbitkan Juli menyebut luas es laut Arktik pada puncak musim dingin Februari-Maret 2024-2025 turun 5,8%, menjadi penurunan terbesar nan pernah tercatat dalam periode tersebut.
Di sisi lain, persoalan geopolitik menjadi tantangan besar. Jalur Sutra Es melewati NSR nan dikendalikan Rusia, sementara izin pelayaran diterbitkan Northern Sea Route Administration di bawah Rosatom.
William Yang, analis senior Asia Timur Laut International Crisis Group, menilai China menjadi salah satu negara nan paling realistis memanfaatkan jalur tersebut sebagai pengganti terhadap rute strategis seperti Selat Hormuz dan Terusan Suez.
"Namun, mengingat Rusia mengendalikan pelayaran melalui NSR, penggunaan jalur tersebut juga dapat menimbulkan akibat politik bagi negara-negara lain," kata Yang. Ia menilai peningkatan aktivitas China di NSR berpotensi sekaligus memperkuat injakan Beijing di area Arktik.
Kebutuhan terhadap jalur pengganti semakin besar setelah gangguan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb menakut-nakuti perdagangan global. Selat Hormuz menjadi jalur utama ekspor minyak dan LNG dari area Teluk, sementara Bab al-Mandeb merupakan pintu masuk ke Laut Merah nan terhubung dengan Terusan Suez. Gangguan pada kedua titik tersebut mendorong perusahaan pelayaran mencari jalur nan lebih kondusif dan tidak terlalu berjuntai pada chokepoint tradisional.
Meski demikian, Dylan Loh menilai Jalur Sutra Es lebih merupakan strategi antisipasi China daripada pengganti langsung jalur tradisional. "Rute China ini lebih merupakan langkah antisipasi, bukan peralihan total ataupun pengganti sejati untuk saat ini," ujarnya.
Alejandro Reyes, guru besar tambahan di University of Hong Kong, apalagi menilai aktivitas pelayaran rutin dapat membawa dimensi ekonomi baru bagi kehadiran China di Arktik sekaligus memperbesar persaingan Beijing-Moskow dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

51 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·