Amerika Dalam Bahaya! Utang Menuju Rp 900 Kuadriliun-Segera Bangkrut?

14 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) menghadapi persoalan utang yang semakin mengkhawatirkan. Utang pemerintah federal AS resmi menembus US$40 triliun, mencetak rekor baru dan menjadi peringatan atas semakin beratnya beban fiskal negara tersebut.

Mengacu pada info Departemen Keuangan AS, utang federal mencapai US$40 triliun pada Selasa. Jika menggunakan kurs sekitar Rp17.940 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp717.600 triliun alias Rp 717 kuadriliun.

Angka tersebut menjadi semakin mencolok lantaran pertumbuhan utang AS berjalan sangat cepat. Utang bertambah US$1 triliun hanya dalam lima bulan terakhir.

CEO Peter G. Peterson Foundation, Michael Peterson, juga memberi peringatan. Bahwa jika tren tersebut terus berlangsung, utang AS dapat mencapai US$50 triliun (Rp 892 ribu triliun alias 892 kuadriliun) namalain nyaris Rp 900 kuadriliun hanya dalam enam tahun.

"Jika memandang ke belakang, kita baru mencapai US$20 triliun kurang dari 10 tahun lalu," ujarnya Kamis (20/8/2026).

Mengapa Bahaya?

Persoalan AS bukan hanya besarnya utang, tetapi juga kecepatannya bertambah. Ini "berbahaya" lantaran pemerintah AS terus mengalami defisit lantaran pengeluaran lebih besar dibandingkan penerimaan negara.

Dalam 10 bulan pertama tahun fiskal ini saja, defisit anggaran AS telah mencapai US$1,8 triliun. Salah satu aspek nan membikin beban fiskal semakin berat adalah perubahan demografi.

Sekitar 10.000 penduduk Baby Boomer pensiun setiap hari, sementara masyarakat AS juga hidup lebih lama. Kondisi tersebut meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk program Social Security dan Medicare.

Di sisi lain, beragam kebijakan pemangkasan pajak dan peningkatan shopping selama beberapa tahun terakhir juga ikut memperbesar utang. Termasuk kebijakan pajak era Presiden Donald Trump serta beragam paket support ekonomi selama pandemi Covid-19.

Yang mengejutkan, pencapaian utang US$40 triliun terjadi lebih sigap dari perkiraan sebelumnya. Congressional Budget Office pada 2023 memperkirakan nomor tersebut baru bakal tercapai pada 2028.

Tak Hanya Kecepatan Utang Tapi...


Hal ini tak hanya mengenai kecepatan utang, masalah lain muncul dari biaya untuk bayar kembang utang. Kombinasi antara utang nan semakin besar dan tingkat suku kembang nan lebih tinggi membikin pembayaran kembang pemerintah AS melonjak.

Pembayaran kembang diperkirakan menembus US$1 triliun pada tahun fiskal ini. Hal ini menjadi rekor baru.

Dalam lima tahun terakhir, sebenarnya biaya kembang tersebut telah meningkat lebih dari tiga kali lipat. Bahkan, pembayaran kembang sekarang nyaris menyamai pengeluaran pemerintah untuk Medicare dan menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar pemerintah AS setelah Social Security.

"Utang kita menghasilkan lebih banyak utang. Ini menciptakan lingkaran setan," kata analis dari Committee for a Responsible Federal Budget, Marc Goldwein.

Bisa Bikin AS Bangkrut?

Besarnya utang tidak otomatis berfaedah AS bakal ambruk alias mengalami collapse. Amerika tetap mempunyai posisi unik lantaran dolar AS merupakan mata duit utama bumi dan Treasury AS menjadi salah satu aset paling banyak digunakan penanammodal global.

Namun, persoalan tersebut dapat menimbulkan tekanan nan semakin besar andaikan tidak dikendalikan. Salah satu dampaknya sudah terlihat di pasar obligasi.

Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun pada Selasa mencapai level tertinggi sejak 2007. Sementara imbal hasil tenor 10 tahun juga berada di dekat level tertinggi pada masa kedudukan kedua Trump.

Ketika penanammodal menilai akibat utang pemerintah meningkat, mereka dapat meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi AS. Masalahnya, kenaikan imbal hasil Treasury tidak hanya berakibat kepada pemerintah.

Imbal hasil Treasury 10 tahun menjadi salah satu referensi krusial bagi kembang KPR, angsuran kendaraan, hingga pinjaman bisnis. Dengan demikian, semakin mahal biaya utang pemerintah, semakin besar pula potensi tekanan terhadap konsumen dan bumi usaha.

Presiden organisasi non partisan Committee for a Responsible Federal Budget, Maya MacGuineas, mengatakan beban utang US$40 triliun pada akhirnya bakal terasa hingga ke masyarakat.

"Semakin banyak kita berutang, semakin besar tekanan terhadap inflasi, prioritas anggaran lainnya, dan keahlian menghadapi keadaan darurat," ujarnya.

AS Sudah Kehilangan Rating Sempurna

Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS juga telah tercermin dari ranking kreditnya. Pada 2025, Moody's menurunkan ranking utang AS, sehingga Amerika kehilangan status sebagai negara dengan rating angsuran sempurna terakhir nan tetap dimilikinya.

Meski demikian, utang AS tetap mempunyai ranking sangat tinggi dan tetap berada di atas sejumlah negara maju seperti Prancis dan Jepang. Persoalan utang juga bukan hanya dialami AS. Inggris, Prancis, Jerman dan Jepang menghadapi tekanan serupa, dengan imbal hasil obligasi pemerintah berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan utang nan sudah mencapai US$40 triliun dan berpotensi menyentuh US$50 triliun dalam beberapa tahun ke depan, tantangan terbesar AS bukan sekadar apakah negara tersebut bisa bayar utangnya. Tetapi seberapa besar beban utang bakal menggerus ruang pemerintah untuk membiayai ekonomi di masa depan.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya