Ancaman El Nino di Depan Mata, Pemerintah Perlu Lakukan Ini!

51 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Leo Putera Rinaldy menyatakan, saat ini pemerintah perlu melakukan pengelolaan alias pengendalian inflasi pangan di tengah akibat cuaca ekstrem. Pasalnya, El Nino diperkirakan tetap terus bersambung dan berpotensi menekan produksi pangan.

"Nah, jika kita lihat Nino Index dari BMKG alias contohnya Columbia University, itu peak dari El Nino itu diperkirakan bakal terjadi di bulan Agustus-September, dan El Nino-nya ini mungkin tetap bakal berjalan sampai semester pertama tahun depan," ujar dia dalam Power Lunch, Kamis (13/8/2026).

Selain itu, pemerintah juga perlu mewaspadai potensi kenaikan nilai nan berasal dari biaya produksi. Sebab, terdapat perbedaan antara inflasi konsumen alias Consumer Price Index (CPI) dengan inflasi produsen alias Wholesale Price Index (WPI).

"Jadi, pass-through biaya nan tadi kita diskusikan, jika kita lihat CPI inflation kita, itu berada di bawah 3% year-on-year, tapi WPI inflation nan menjadi proxy dari producer inflation, itu sekarang berada di 5,6%," jelasnya.

Dirinya melanjutkan, selisih tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku upaya saat ini lebih memilih untuk menahan kenaikan biaya produksi agar beban tidak langsung terasa bagi konsumen. Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari upaya untuk menjaga pangsa pasar, meskipun ada akibat margin nan diterima pelaku upaya menyusut.

"Namun, tampaknya ruang bagi mereka untuk menekan margin lagi itu sudah terbatas, sehingga ada potensi pass-through kelak nan ke consumer prices," terang dia.

Oleh karena itu, Leo menganggap pemerintah kudu memperkuat stimulus dari sisi pasokan. Kebijakan ini sangat dibutuhkan guna menjaga kesiapan maupun kelancaran pengedaran pangan, termasuk menekan kenaikan biaya produksi di sektor swasta.

"Nah, ini nan perlu dimonitor, dan tadi, kenapa stimulus dari sisi supply side-nya menjadi krusial untuk memastikan kenaikan biaya produksi di sisi swasta itu tidak sampai pass-through ke sisi consumer prices," pungkasnya.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya