Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran rimba dan lahan di Gunung Bromo nan sudah berjalan sepekan lebih rupanya belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Justru sebaliknya, api sekarang bergerak mengarah ke padang savana, area ikonik nan selama ini jadi favorit wisatawan.
Menurut Daryono, personil Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), ada tiga aspek utama di kembali sulitnya api dikendalikan. Pertama, kombinasi cuaca panas nan membikin vegetasi makin kering. Kedua, angin kencang nan apalagi bisa "melompati" Lautan Pasir alias sekat alami nan semestinya menahan laju api. Ketiga, melimpahnya rumput dan semak kering di area Bukit Teletubbies nan justru jadi bahan bakar ideal bagi kobaran api.
"Meski strategi pemadaman sudah dilakukan secara masif lewat water bombing, drone spray, hingga penanganan darat, hembusan angin berkecepatan tinggi terus memecah konsentrasi air nan dijatuhkan dari udara," demikian dijelaskan Daryono.
Akibat kondisi ini, opsi penutupan total seluruh akses wisata, termasuk jalur Cemoro Lawang dan Wonokitri, disebut berpotensi kuat diambil demi memprioritaskan keselamatan masyarakat dan wisatawan.
Daryono menjelaskan, strategi pemadaman saat ini berfokus pada dua perihal ialah memutus jalur rambatan api dan mengoptimalkan jalur pemindahan bagi petugas maupun masyarakat. Selain rencana penutupan akses wisata, tim campuran juga memprioritaskan pembuatan sekat bakar (firebreak) di titik-titik terdampak, salah satunya di Jalur Lingkar Kaldera Tengger, untuk melokalisasi kobaran api nan terus meluas akibat angin kencang.
4 Langkah Mitigasi nan Disarankan IABI
Agar kejadian serupa tak terus berulang, IABI menekankan pentingnya empat pilar mitigasi karhutla di area Bromo:
- Pencegahan visitor - memperketat pemeriksaan peralatan bawaan wisatawan, melarang keras penggunaan bahan pemicu api seperti flare alias kembang api, serta larangan membuang puntung rokok sembarangan.
- Pengelolaan area rawan - membangun jalur sekat bakar (firebreak) dan memantau tingkat kekeringan vegetasi secara berkala.
- Patroli dan organisasi - menyiagakan Tim Masyarakat Peduli Api (MPA) serta mengintensifkan patroli rutin di area rawan.
- Deteksi dan tanggap sigap - memanfaatkan pemantauan titik panas (hotspot) dan menyiapkan tim tanggap darurat untuk penanganan dini.
Dengan kombinasi aspek cuaca ekstrem dan medan nan sulit, para mahir menilai penanganan karhutla Bromo ke depan butuh pendekatan jangka panjang, bukan sekadar pemadaman reaktif saat api sudah membesar.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
6








English (US) ·
Indonesian (ID) ·