AS Ancam Sanksi Terberat Sepanjang Sejarah, Iran Beri Jawaban Menohok

3 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran menegaskan tidak gentar menghadapi ancaman paket hukuman baru Amerika Serikat (AS), apalagi menilai langkah tersebut menunjukkan Washington mulai putus asa setelah nyaris enam bulan perang. Teheran memperingatkan bahwa tekanan ekonomi terbaru AS tidak bakal bisa memaksa Iran menyerah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan ancaman hukuman baru nan disiapkan pemerintahan Presiden Donald Trump merupakan pengulangan dari strategi tekanan nan sebelumnya dinilai gagal.

Pernyataan itu disampaikan Araqchi melalui video nan diunggah di Telegram pada Minggu. Ia menilai peralihan Washington dari operasi militer ke ancaman ekonomi menunjukkan AS tidak mempunyai pendekatan baru untuk menghadapi Iran.

"Fakta bahwa mereka (para pemimpin AS) telah beranjak dari operasi militer ... untuk mengangkat kembali rencana-rencana lama nan sama menunjukkan bahwa mereka putus asa," kata Araqchi, sebagaimana dikutip Reuters.

Araqchi juga mendesak Washington berbincang dengan Iran secara hormat jika mau menemukan jalan keluar dari bentrok nan telah berjalan nyaris enam bulan tersebut. Ia menegaskan Iran tidak pernah takut menghadapi tekanan AS, termasuk blokade dan operasi militer.

"Kami tidak pernah takut. Semua tindakan mereka baik blokade maupun langkah-langkah militer lain nan telah mereka lakukan telah gagal, dan masalah baru mereka ini juga bakal gagal," kata Araqchi.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konvensi pers pada Senin (24/8/2026) siang waktu setempat. Bessent sebelumnya menakut-nakuti bakal memberlakukan apa nan disebut sebagai "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.

Ancaman tersebut muncul ketika perekonomian Iran sudah berada di bawah tekanan besar akibat hukuman internasional. Infrastruktur Iran juga telah berulang kali terkena serangan, sementara ribuan orang tewas dalam serangan udara terhadap Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari.

Meski menghadapi tekanan tersebut, Teheran tetap menunjukkan sikap menantang.

Iran selama nyaris enam bulan perang telah membikin lampau lintas pelayaran di Selat Hormuz nyaris terhenti. Iran menolak mengizinkan kapal tanker minyak nan tidak memperoleh izin untuk melintasi jalur perairan tersebut.

Presiden Donald Trump sebelumnya juga memperingatkan bakal ada akibat ekonomi terhadap negara manapun nan memberikan "segala jenis bantuan" kepada Iran.

Bessent apalagi telah mendorong China untuk bekerja sama dengan Washington dalam menekan Teheran.

China menjadi salah satu titik krusial dalam strategi tersebut lantaran negara tersebut membeli lebih dari 80% minyak Iran nan dikirim melalui jalur laut, berasas info 2025 dari perusahaan analitik Kpler.

Beijing sendiri telah menyerukan penyelesaian bentrok melalui diplomasi.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf pada Sabtu mengatakan Teheran telah menerima "banyak pesan" dari negara-negara tetangga mengenai pembentukan pengaturan keamanan regional dan kerja sama ekonomi baru.

Qalibaf tidak menyebut negara mana saja nan mengirimkan pesan tersebut.

Ia menuduh AS membahayakan keamanan sekutunya sendiri di area demi kepentingan Israel. Menurutnya, tatanan regional nan independen dan "dibangun sendiri" dapat menciptakan perdamaian dan keamanan.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya