Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan 15 migran Tunisia untuk mencapai Italia berhujung tragis setelah kapal nan mereka tumpangi tenggelam di lepas pantai Tunisia. Menurut Garda Nasional Tunisia, hingga minggu (23/8/2026), sebanyak 11 jenazah telah ditemukan, sementara tiga orang lainnya tetap dinyatakan hilang.
Operasi pencarian terhadap para korban nan tetap belum ditemukan terus dilakukan oleh penjaga pantai, militer, dan tim perlindungan sipil. Dalam pencarian tersebut, dua helikopter turut dikerahkan.
Kapal tersebut berangkat pada Kamis (20/8/2026) awal hari dengan membawa 15 orang, nan sebagian besar merupakan anak muda. Kapal kemudian tenggelam dalam perjalanan menuju Italia.
Sejauh ini, hanya satu orang nan sukses diselamatkan dalam kondisi hidup.
Kepala sebuah golongan hak-hak migran mengatakan pada Sabtu bahwa korban selamat tersebut mengaku terombang-ambing di laut selama 48 jam sebelum akhirnya diselamatkan oleh sebuah kapal komersial.
Kepala Tunisian Observatory for Human Rights mengatakan kepada Reuters bahwa tujuh orang nan berada di dalam kapal merupakan personil dari family nan sama. Selain itu, terdapat seorang laki-laki nan melakukan perjalanan berbareng istrinya nan sedang hamil.
Seluruh migran nan berada di kapal tersebut berasal dari wilayah Ben Guerdane, Tunisia bagian tenggara.
Ben Guerdane merupakan wilayah nan berada dekat perbatasan Libya. Setelah berita mengenai tenggelamnya kapal tersebut menyebar, puluhan anak muda berkumpul di kota itu pada Sabtu malam untuk menuntut agar operasi pencarian terhadap korban nan tetap lenyap dipercepat.
Aksi tersebut kemudian dibubarkan oleh polisi menggunakan gas air mata.
Adapun kapal nan tenggelam tersebut menggunakan rute migrasi dari Afrika Utara menuju Italia melalui Laut Mediterania bagian tengah.
Rute Mediterania tengah dari pantai Afrika Utara merupakan salah satu jalur migrasi paling mematikan di dunia. Jalur tersebut digunakan oleh para migran dari Afrika dan Timur Tengah nan berupaya mencapai Eropa.
Para migran kerap melakukan perjalanan menggunakan kapal nan penuh sesak alias tidak layak berlayar, sehingga perjalanan melalui jalur tersebut mempunyai akibat tinggi.
Sementra itu, Human Rights Watch, Amnesty International, serta puluhan organisasi kewenangan asasi manusia dan kemanusiaan lainnya pada bulan lampau menyampaikan pernyataan berbareng mengenai kesepakatan migrasi antara Tunisia dan Uni Eropa.
Dalam pernyataan tersebut, kelompok-kelompok itu mengatakan kesepakatan tersebut telah mendorong dan menormalisasi "pelanggaran serius" terhadap para migran dan pencari suaka di Tunisia.
Mereka juga menyerukan agar Uni Eropa menangguhkan pendanaan untuk aktivitas migrasi dan pengawasan perbatasan nan melibatkan pasukan keamanan Tunisia.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

1 hari yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·