AS Mau Hancurkan Ekonomi Iran, Teheran Siapkan Balasan Mematikan

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran memperingatkan Amerika Serikat bahwa responsnya bakal "melumpuhkan, menghukum, dan menghancurkan" jika Washington mengeluarkan ancaman baru. Peringatan tersebut muncul setelah AS berjanji menjatuhkan hukuman finansial terberat dalam sejarah dengan tujuan menggulingkan kepemimpinan Iran.

Melansir Reuters, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan rincian hukuman tersebut bakal diumumkan pada Senin. Presiden Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa negara mana pun nan memberikan "bentuk support apa pun" kepada Iran bakal menghadapi akibat ekonomi.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, mengatakan Iran telah mempersiapkan diri menghadapi ancaman tersebut.

"Dengan kesiapan di darat, laut, udara, pertahanan udara, dan bumi maya, angkatan bersenjata Iran bakal menanggapi ancaman baru musuh dengan respons nan melumpuhkan, menghukum, dan menghancurkan," kata Abdollahi seperti dikutip media Iran.

Pemimpin Iran dan Trump sama-sama mengeluarkan pernyataan bersuara tegas ketika kedua pihak belum sukses memenangkan perang nan dimulai Amerika Serikat dan Israel nyaris enam bulan lalu.

Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang, melibatkan negara-negara Teluk lainnya, dan mendorong kenaikan nilai bahan bakar global.

Serangan AS telah melemahkan perekonomian dan kekuatan militer konvensional Iran. Namun, Teheran tetap mempunyai keahlian rudal dan drone nan dapat mengganggu lampau lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz serta menyerang rival regional.

Perang Jadi Beban Politik Trump

Trump belum mencapai sejumlah tujuan nan ditetapkan pada awal perang, termasuk membongkar program nuklir Iran dan menciptakan kondisi agar rakyat Iran menggulingkan pemerintahan ulama.

Perang tersebut juga mendorong kenaikan nilai bensin dan menekan ketenaran Trump. Jajak pendapat Reuters/Ipsos nan dirilis pekan ini menunjukkan ketenaran Trump berada pada titik terendah dalam masa kedudukan keduanya.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, nan menjadi negosiator utama Iran dalam pembicaraan nan dimediasi dengan Amerika Serikat, mengatakan Washington tampaknya telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat memenangkan konfrontasi militer langsung.

"Kita kudu membikin rencana untuk menghadapi hukuman nan tidak setara sehingga kita dapat mengatasinya," kata Qalibaf di Irak.

Namun, Qalibaf juga mengakui tekanan terhadap perekonomian Iran.

"Betapapun besarnya kekuatan militer nan kita miliki, kita tidak bakal memperkuat jika rakyat kelaparan dan kita tidak mempunyai perputaran keuangan, pertumbuhan ekonomi, serta produksi nasional," ujarnya menurut instansi buletin resmi IRNA.

Ancaman Sanksi Dorong Harga Minyak

Harga minyak mentah berjangka internasional dan AS naik pada Jumat setelah AS menakut-nakuti bakal menjatuhkan hukuman ekonomi terhadap mitra jual beli Iran. Langkah tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa pasokan minyak bakal semakin ketat dalam beberapa pekan mendatang.

Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa rincian hukuman baru bakal diumumkan dalam konvensi pers pada Senin.

"Kami bakal menggulingkan rezim ini," kata Bessent.

Iran telah menghadapi hukuman ekonomi selama nyaris 50 tahun sejak Revolusi Islam 1979. Namun, rakyat Iran sekarang menghadapi inflasi tinggi, pelemahan mata uang, kekurangan energi, serta kerusakan infrastruktur.

Sanksi nan lebih ketat juga dapat menimbulkan akibat internasional.

Bessent mengatakan China mendapatkan separuh kebutuhan energinya dari area Teluk sehingga menurutnya Beijing perlu ikut dalam upaya tersebut.

China membeli lebih dari 80% minyak Iran nan dikapalkan berasas info 2025 dari perusahaan kajian Kpler. Namun, peningkatan tekanan ekonomi AS terhadap Beijing berisiko memicu pembalasan.

Kedutaan Besar China di Washington mengatakan, "Sanksi dan tekanan tidak membantu menyelesaikan masalah," serta menyerukan diplomasi.

NATO Bahas Selat Hormuz

Ada akibat lain bagi sekutu AS di area Teluk. Sejumlah akomodasi daya dan instalasi desalinasi nan menjadi sumber air minum telah menjadi sasaran serangan Iran.

AS dan Iran telah dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, pada April dan Juni, dengan tujuan memulihkan kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz.

Sebelum Februari, sekitar seperlima dari seluruh perdagangan minyak bumi melewati selat tersebut.

Iran dan Oman, nan berada tepat di seberang selat, telah melakukan pembicaraan terpisah dengan tujuan memulihkan pelayaran. Namun, AS menentang kesepakatan nan memberlakukan pungutan terhadap kapal.

Komandan tertinggi NATO, Jenderal Angkatan Udara AS Alexus Grynkewich, pada Rabu menggelar konvensi video dengan para kepala pertahanan negara-negara sekutu untuk membahas langkah mendukung kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Juru bicara Grynkewich mengatakan upaya tersebut bukan merupakan misi NATO. Namun, dengan keahlian nan dimiliki aliansi tersebut, NATO dinilai dapat memfasilitasi upaya tersebut.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya