Atas Permintaan AS, Latihan Militer Bersama AS-Korsel Dipangkas Separuh

48 menit yang lalu 2
Atas Permintaan AS, Latihan Militer Bersama AS-Korsel Dipangkas Separuh Latihan militer berbareng tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS) antara AS dan Korea Selatan dipangkas durasinya dari 10 hari menjadi lima hari atas permintaan Washington.(AFP)

LATIHAN militer berbareng antara Amerika Serikat dan Korea Selatan dipangkas hingga separuh lama atas permintaan pihak Washington. Keputusan ini diambil beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan pengurangan lama latihan tersebut dengan argumen hubungan baiknya dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Latihan tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS) nan dimulai pada Senin lampau awalnya dijadwalkan berjalan selama 10 hari. Namun, militer kedua negara mengonfirmasi latihan tersebut sekarang bakal berhujung lebih sigap pada Jumat (21/8).

"Berdasarkan pengarahan dari Presiden dan Menteri Perang, Departemen telah secara substansial mengurangi Latihan Ulchi Freedom Shield sembari tetap melanjutkan training nan meningkatkan keahlian taktis," kata seorang pejabat Pentagon.

"Acara training langsung mengenai telah dikurangi, dengan aktivitas tertentu dibatalkan alias diubah menjadi simulasi. Penyesuaian ini mempertahankan kesiapan esensial dan tujuan pelatihan," lanjut pejabat tersebut. "Tidak bakal ada penurunan pada tujuan training AS."

Pihak militer Korea Selatan juga mengonfirmasi bahwa keputusan untuk "menyesuaikan sebagian periode dan ukuran latihan" UFS tersebut dilakukan "atas permintaan AS."

Penyesuaian agenda ini menyusul pernyataan Trump nan mengaku telah meminta Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk mengurangi latihan tersebut. Trump menilai latihan militer itu mengirimkan sinyal nan "sama sekali tidak tepat dan bermusuhan" kepada Korea Utara, serta menyoroti kurangnya support dari Seoul mengenai perang Iran.

Meski Kim Jong Un belum memberikan komentar secara langsung, media pemerintah Korea Utara, KCNA, menyebut latihan tersebut sebagai "ancaman paling langsung dan terbuka" bagi Pyongyang serta keamanan kawasan.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan bahwa latihan itu murni berkarakter defensif. Menurutnya, latihan tersebut tidak bermaksud untuk "Meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea," melainkan sebagai "latihan defensif" untuk menjaga perdamaian dan melindungi nyawa. Ia menambahkan bahwa Korea Selatan bakal "Mempertahankan tingkat kesiapan nan tidak tergoyahkan."

Awalnya, sekitar 18.000 prajurit Korea Selatan dijadwalkan berperan-serta dalam latihan nan dirancang untuk mengantisipasi ancaman drone, gangguan GPS, dan serangan siber. Kepala Staf Militer Seoul menyatakan bahwa kedua negara sekarang bakal "Membahas dan menerapkan beragam langkah untuk mencapai tujuan latihan UFS dan membangun postur pertahanan berbareng ke depannya." (CNN/Z-2)

Selengkapnya