Atmosfer Pluto seperti nan terlihat oleh pesawat ruang angkasa New Horizons milik NASA pada 2016.(NASA/JHUAPL/SwRI)
FENOMENA luar biasa tengah terjadi di area terluar Tata Surya kita. Atmosfer tipis nan menyelimuti planet kerdil Pluto dilaporkan mulai menipis, memadat, dan runtuh kembali ke permukaannya. Kondisi ekstrem ini terjadi seiring dengan semakin jauhnya posisi Pluto dari Matahari dalam lintasan orbit elipsnya, nan membikin suhunya merosot ke tingkat dingin nan membekukan.
Para intelektual astronomi mengawasi kejadian ini dengan memanfaatkan teknik occultation, ialah mengawasi momen ketika Pluto melintas tepat di depan sebuah bintang jauh dari perspektif pandang Bumi. Saat Pluto menutupi sinar bintang tersebut, perubahan intensitas sinar nan menembus lapisan atmosfer memberikan info presisi mengenai kerapatan, tekanan, serta ketebalan atmosfer Pluto.
Atmosfer Pluto sebagian besar terdiri dari gas nitrogen, dengan sedikit kandungan metana dan karbon monoksida. Gas-gas ini terbentuk dari penguapan lapisan es di permukaan Pluto ketika planet kerdil tersebut berada pada titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion). Panas Matahari nan terbatas cukup untuk menyublimkan es nitrogen menjadi gas nan membentuk atmosfer tipis.
Namun, saat Pluto bergerak semakin jauh menuju titik terjauhnya dari Matahari (aphelion), radiasi sinar Matahari nan diterima permukaannya terus berkurang secara drastis. Akibatnya, suhu permukaan Pluto turun semakin ekstrem. Udara nitrogen nan tadinya berbentuk gas sekarang mendingin, mengkristal, dan mengendap kembali ke permukaan planet sebagai lapisan es padat. Proses kondensasi inilah nan menyebabkan atmosfer Pluto tampak 'runtuh' dan menghilang.
Pengamatan terbaru ini sekaligus mengonfirmasi prediksi ilmiah nan telah lama digagas oleh para astronom. Sebelumnya, info beresolusi tinggi dari wahana antariksa New Horizons milik NASA pada 2015 sempat menunjukkan atmosfer Pluto nan cukup tebal dan aktif. Namun, info terkini membuktikan fase kehangatan relatif Pluto telah berhujung dan sekarang memasuki siklus pembekuan jangka panjang.
Orbit Pluto nan sangat lonjong memerlukan waktu sekitar 248 tahun Bumi untuk menyelesaikan satu kali putaran mengelilingi Matahari. Hal ini berfaedah kejadian hilangnya atmosfer akibat pembekuan ini bakal berjalan selama puluhan tahun ke depan, sebelum nantinya Pluto kembali mendekati Matahari dan mencairkan kembali es nitrogen di permukaannya. (Space/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·