Audit Media Sosial: Langkah Penting yang Sering Kita Lupakan

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

loading...

Ardi Arupa Kewangga, Pranata Humas Pertama BSSN dan Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta. Foto/SindoNews

Ardi Arupa Kewangga
Pranata Humas Pertama BSSN dan Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

DI banyak organisasi, media sosial sering diperlakukan seperti mesin publikasi. Setiap hari kudu ada konten. Setiap momentum kudu dibuatkan desain. Setiap aktivitas kudu diunggah. Setiap tren mau segera diikuti. Akhirnya, ukuran keberhasilan media sosial sering berakhir pada pertanyaan sederhana: “Sudah posting belum?”.

Padahal, ada pertanyaan nan jauh lebih penting, apakah media sosial kita betul-betul dikelola dengan sehat, aman, terarah, dan berdampak? Di sinilah satu perihal krusial sering terlupakan, audit media sosial.

Selama ini, kata “audit” lebih sering dikaitkan dengan keuangan. Kalau mendengar audit, nan terbayang adalah laporan keuangan, angka, bukti transaksi, dan pemeriksaan administrasi.

Namun, dalam perkembangan organisasi modern, audit juga bisa diterapkan pada media sosial. Audit media sosial dapat di defisinisikan sebagai proses penilaian terhadap efektivitas kontrol atas kebijakan dan proses media sosial dalam sebuah organisasi. Audit ini tidak hanya memandang hasil akhir, tetapi juga menilai efektivitas operasional, langkah pengawasan, dan kesesuaian strategi media sosial dengan tujuan organisasi (Rahmalia, 2020).

Media Sosial Bukan Sekadar Etalase

Media sosial hari ini bukan lagi sekadar tempat memajang informasi. Ia sudah menjadi ruang interaksi, ruang pembentukan citra, ruang pelayanan, ruang klarifikasi, apalagi ruang krisis. Bagi organisasi, media sosial membantu membangun kedekatan dengan publik, meningkatkan brand awareness, memperluas jangkauan kampanye, dan mempercepat penyebaran info (ISACA, 2011).

Kehadiran media sosial telah mengubah praktik komunikasi korporat dan public relations lantaran publik sekarang mempunyai ruang nan lebih besar untuk bersuara, memberi tanggapan, dan ikut membentuk persepsi terhadap organisasi (Juwita, 2017). Dengan kata lain, media sosial membikin komunikasi tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh organisasi. Publik ikut berbicara, ikut menilai, dan ikut menyebarkan makna.

Masalahnya, banyak organisasi hanya konsentrasi pada produksi konten, tetapi lupa memeriksa sistem di baliknya. Siapa nan menyusun strategi? Siapa nan menyetujui konten? Apakah ada SOP respons komentar? Apakah akun sudah aman? Apakah narasi antarkanal konsisten? Apakah performa media sosial betul-betul mendukung tujuan organisasi? Apakah ada mitigasi jika terjadi kesalahan unggah, serangan akun, alias rumor negatif? Tanpa audit, media sosial bisa terlihat aktif dari luar, tetapi sebenarnya rentan di dalam.

Risiko Media Sosial Sering Diremehkan

Media sosial memang menawarkan banyak manfaat, tetapi juga membawa Risiko, seperti terbukanya info sensitif, penyalahgunaan akun, menurunnya kredibilitas, hingga buruknya reputasi institusi. Risiko ini menjadi semakin besar ketika media sosial digunakan tanpa tujuan, rencana, dan rambu-rambu nan jelas.

Selengkapnya