ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali tegang setelah kedua belah pihak saling lempar sanggahan mengenai izin inspeksi situs nuklir oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ketidakpastian baru ini membayangi upaya pembukaan kembali jalur pelayaran dunia di Selat Hormuz.
Mengutip The Associated Press, selasa (23/6/2026), perselisihan ini mencuat tepat ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian menemui mediator di Pakistan. Di saat nan sama, tim teknis dari AS dan Iran tetap melanjutkan perundingan intensif di Swiss.
Konfrontasi verbal bermulai saat ahli bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, berbincang kepada media di Teheran. Baghaei menegaskan bahwa tim pengawas PBB tidak mempunyai agenda untuk memeriksa situs pengayaan nuklir nan sempat dibom oleh militer AS tahun lalu.
Pernyataan sepihak Teheran tersebut langsung memicu polemik baru. Langkah ini secara terbuka menolak klaim nan dilontarkan oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, sehari sebelumnya.
Rencana Evakuasi di Selat Hormuz
Di tengah kebuntuan politik tersebut, sebuah rencana darurat telah disepakati oleh pihak internasional. Otoritas maritim bakal mengevakuasi sekitar 11.000 awak kapal nan terdampar di Selat Hormuz.
Jalur daya vital tersebut sebelumnya diblokade total oleh militer Iran. Penutupan akses pelayaran itu terjadi pasca-meletusnya perang pada akhir Februari lalu.
Rencana pemindahan berjenjang ini dirancang melalui kerja sama lintas negara secara ketat. Operasi ini melibatkan pihak Iran, Oman, negara pesisir regional, serta pihak militer AS.
"Kami telah mengamankan agunan keselamatan nan diperlukan dan telah memverifikasi secara menyeluruh kondisi navigasi nan kondusif untuk mendukung operasi ini," ujar Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, dalam sebuah pernyataan resmi.
Langkah pemindahan kemansion ini dinilai menjadi angin segar bagi industri logistik global. Sektor asuransi laut berambisi pemulihan rute dapat menstabilkan kembali rantai pasok dunia.
"Itu hanya bisa menjadi berita baik bagi semua pihak nan terlibat," kata Marcus Baker selaku kepala dunia maritim, kargo, dan logistik untuk Marsh di London.
Namun, draf gencatan senjata ini dinilai tetap sangat rentan di lapangan. Iran sempat menakut-nakuti bakal kembali menutup selat akibat eskalasi pertempuran antara Israel dan golongan Hezbollah di Lebanon.
Berdasarkan info pencarian dari Kpler, lampau lintas maritim di selat tersebut sebenarnya mulai merangkak naik. Tercatat ada 39 kapal melintas pada hari Senin setelah sempat lumpuh total.
Volume ini tetap jauh dari kapabilitas normal sebelum perang nan bisa mencapai 100 kapal per hari. Di sisi lain, Komando Pusat militer AS melaporkan bahwa dua kapal induk mereka tetap terus bersiaga di area Timur Tengah.
Presiden Iran Kunjungi Pakistan
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan kunjungan luar negeri pertamanya sejak perang pecah. Pezeshkian menyambangi Islamabad untuk melakukan pertemuan bilateral berbareng Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari.
Dalam pertemuan resmi tersebut, kedua pemimpin membahas beragam rumor strategis regional. Fokus utama pembicaraan mereka adalah mengenai perdamaian wilayah serta penguatan kerja sama ekonomi nasional.
Pezeshkian juga menegaskan bahwa nota kesepahaman antara AS dan Iran sama sekali tidak membatasi kekuatan militer mereka. Draf perdamaian itu diklaim tidak menyentuh program pengembangan rudal balistik milik Teheran.
"Jika bukan lantaran keahlian rudal Iran, negara kami pasti sudah dijarah dan dihancurkan. Kami tidak bakal pernah berdiskusi alias menegosiasikan keahlian rudal kami," tegas Pezeshkian dalam konvensi pers setelah pertemuan tersebut.
Merespons kerja sama ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memberikan pernyataan simpatik. Sharif berkomitmen untuk memberikan penghormatan terakhir secara langsung kepada pemimpin Iran.
Sharif mengonfirmasi bahwa dirinya bakal menghadiri upacara pemakaman Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Pemimpin spiritual Iran tersebut tewas akibat serangan udara di awal perang.
Klaim Iran soal Perdamaian
Dari meja perundingan di Swiss, perwakilan Iran menyatakan bahwa pembicaraan dengan delegasi AS melangkah dinamis. Dialog tersebut telah menghasilkan pembentukan golongan kerja unik untuk draf perdamaian permanen.
Kelompok ini bakal berfokus pada sistem pemulihan hukuman serta pengawasan jalur kapal di Selat Hormuz. Kedua negara juga sepakat membentuk sel dekonflik untuk meredam pertempuran di Lebanon Selatan.
Kendati demikian, situasi di lapangan tetap sangat rawan memicu perang terbuka kembali. Pasukan Israel dilaporkan baru saja menembak meninggal dua orang di wilayah Lebanon Selatan.
Peristiwa maut ini langsung memecah masa tenang nan sempat memperkuat selama dua hari. Insiden ini berpotensi merusak draf kesepakatan komprehensif nan menuntut gencatan senjata penuh di Lebanon.
Netanyahu Masih Menggila di Lebanon
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan posisi militer negaranya nan tidak terikat dengan kesepakatan luar tersebut. Hal ini lantaran baik Israel maupun Hezbollah bukan bagian langsung dari draf perjanjian AS-Iran.
Netanyahu menyatakan bahwa pasukannya bakal tetap bersiaga di Lebanon Selatan. Operasi militer baru bakal dihentikan sampai ancaman terhadap penduduk Israel betul-betul lenyap.
"Militer kami tetap mempunyai kebebasan bertindak penuh di Lebanon untuk menggagalkan ancaman apa pun," ujar Netanyahu dalam pidatonya.
Ketika dimintai tanggapan mengenai pernyataan keras Netanyahu tersebut, Presiden AS Donald Trump memberikan respons singkat. Trump menyatakan pihaknya bakal memandang perkembangannya dan meyakini situasi tersebut bakal dapat diselesaikan.
Di sisi lain, jalur transportasi utama di Beirut mulai dipadati oleh ribuan penduduk pengungsi. Masyarakat mulai nekat kembali ke rumah mereka di Lebanon Selatan setelah pengumuman gencatan senjata hari Sabtu.
Salah satu penduduk nan kembali, Hawraa Nour El-Din, menyatakan ketidakpercayaannya terhadap jalur diplomasi barat. Ia menegaskan masyarakat lebih memilih pihak Teheran untuk memperjuangkan kewenangan mereka.
"Kami tidak mau negosiasi dilakukan oleh pemerintah. Kami mau Iran bermusyawarah atas nama kami, dan kami kembali dengan kemenangan, suka alias tidak suka," kata Hawraa saat diwawancarai di jalanan menuju selatan.
(tps/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·