ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka-bukaan argumen dibalik rencana penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Diantara alasannya adalah bahan baku gas nan tersedia di Indonesia.
Bahlil mulanya menggambarkan, bahwa sampai saat ini Indonesia tetap mengimpor sebanyak 805 dari total kebutuhan LPG di Indonesia. Hal itu karena, bahan baku jenis gas C3 dan C4 tak begitu tersedia di Indonesia, namun lebih banyak jenis C1 dan C2.
"Makanya kita sorong sekarang CNG. CNG itu gasnya pakai C1 C2 dan itu melimpah di Indonesia. Kita kemarin baru dapat temuan giant di ENI di Kalimantan Timur 5 TCF plus 2 TCF terus kondentrat-nya itu kurang lebih sekitar 200.000 barel ekuivalen ya. Itu di 2028-2029 produksinya itu bisa mencapai 3.000 Mmscfd," terang Bahlil dalam Energy Forum CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).
Ia lantas menjelaskan bahwa pemerintah sekarang tengah memasuki tahap ketiga uji coba penggunaan CNG dalam tabung 3 kilogram. Sementara, tabung CNG berkapasitas 12 kilogram dan 50 kilogram telah lebih dulu digunakan di sektor komersial, seperti dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, restoran.
Karena itu, dia menegaskan penggunaan CNG bukanlah teknologi baru lantaran sudah lama diterapkan di beragam sektor. Hanya saja, pemerintah tengah mengembangkan pemanfaatannya untuk kebutuhan rumah tangga.
"Ini bukan peralatan baru, muncul tiba-tiba dari Fakfak datang, tidak. Ini sudah sudah ada ini. Cuman untuk rakyat kita di bawah nan dikenakan subsidi itu adalah kudu pakai tabung nan 3 kilo. Tekanannya itu 200 sampai 250 bar. Nah ini nan kita sekarang lagi uji coba," ujarnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

18 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·