Bak NATO, Arab Saudi Luncurkan Aliansi Pertahanan Baru

55 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi resmi meluncurkan koalisi pertahanan maritim multinasional untuk mengamankan pelayaran di Laut Merah dan Teluk Aden. Pembentukan aliansi ini berjalan di tengah meningkatnya ketegangan dengan golongan Houthi di Yaman nan menakut-nakuti jalur perdagangan dan ekspor minyak Saudi.

Mengutip RT, Minggu (16/8/2026) Kementerian Pertahanan Arab Saudi pada Kamis menyatakan 13 negara telah menyelesaikan prosedur untuk berasosiasi secara resmi dalam koalisi tersebut. Sementara itu, sebanyak 15 negara telah menandatangani pernyataan berbareng mengenai pembentukan aliansi.

Riyadh menyebut perkembangan tersebut sebagai peluncuran resmi koalisi sekaligus awal dari aktivasi kelembagaan dan operasionalnya. Arab Saudi bakal menyediakan komandan pertama, sedangkan Pakistan diperkirakan menunjuk wakil komandan.

Koalisi tersebut bakal berfokus pada koordinasi pertukaran intelijen, latihan bersama, serta operasi maritim untuk melindungi kapal-kapal komersial nan melintasi Laut Merah dan Teluk Aden.

Pengumuman ini muncul di tengah eskalasi tajam antara pasukan nan didukung Saudi di Yaman dan aktivitas Houthi nan berkawan dengan Iran, terutama setelah sekitar empat tahun situasi relatif tenang.

Awal bulan ini, golongan Houthi mengumumkan serangan terkoordinasi menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) terhadap kamp-kamp militer milik pemerintah Yaman nan diakui secara internasional dan didukung Saudi. Kelompok tersebut menyatakan bahwa mereka bertindak setelah mendeteksi adanya persiapan serangan terhadap wilayah nan dikuasai Houthi.

Pasukan pemerintah Yaman mengakui adanya korban jiwa, sementara Reuters mengutip sumber pemerintah melaporkan setidaknya 30 tentara tewas.

Ketegangan telah meningkat sejak bulan Juli, ketika perselisihan mengenai penerbangan langsung antara Sanaa nan dikuasai Houthi dan Teheran turut merusak gencatan senjata nan telah lama berlangsung.

Setelah pasukan nan didukung Saudi menyerang airport Sanaa pada 13 Juli untuk mencegah pesawat Iran memulangkan delegasi Houthi dari Teheran, golongan tersebut menyalahkan Riyadh, menyatakan berakhirnya gencatan senjata, dan kemudian mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Sejak saat itu, golongan Houthi menyatakan telah melakukan serangan terhadap kapal dan prasarana minyak nan mengenai dengan Saudi, sementara koalisi ketua Saudi telah menyerang lokasi-lokasi militer Houthi di Yaman.

Konfrontasi ini menimbulkan ancaman unik bagi Riyadh lantaran Laut Merah telah menjadi jalur keluar nan semakin krusial bagi minyak Saudi di tengah bentrok AS-Iran dan gangguan parah terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz.

Saudi Aramco telah mengalihkan jalur pengiriman minyak mentah agar tidak melewati Hormuz, melainkan melalui jaringan pipa lintas negara menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Volume pemuatan di sana rata-rata mencapai lebih dari empat juta barel per hari sejak bulan Juni, nomor nan lebih dari empat kali lipat dibandingkan tingkat nan tercatat pada periode nan sama tahun lalu, demikian dilaporkan Reuters nan mengutip info pencarian kapal tanker.

Mengingat minyak dan produk minyak bumi mencakup lebih dari tiga perempat ekspor Arab Saudi, gangguan berkepanjangan terhadap pelayaran di Laut Merah dapat menakut-nakuti jalur ekspor pengganti nan krusial.

Pengaktifan koalisi ini juga terjadi di tengah laporan bahwa Riyadh sedang bersiap menghadapi potensi konfrontasi nan lebih luas dengan golongan Houthi.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya