Bank Negara Kaya Minyak Dilanda Krisis, Duit Kering Kerontang

2 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Perbankan Rusia sekarang menghadapi ancaman krisis serius akibat ketiadaan persediaan likuiditas rubel untuk membeli obligasi pemerintah. Kondisi mentoknya likuiditas ini memicu keraguan besar terhadap keahlian Moskow dalam menutupi lonjakan pengeluaran perang melalui pinjaman domestik, di tengah melebarnya defisit anggaran negara kaya minyak tersebut.

Peringatan krisis ini muncul ketika Kementerian Keuangan Rusia dihadapkan pada kekurangan anggaran nan makin melebar dan berpotensi memerlukan tambahan pinjaman hingga triliunan rubel pada tahun ini. Mengingat perbankan nan makin kekurangan likuiditas dan lelang obligasi pemerintah nan ditangguhkan, Bank Sentral Rusia sekarang menghadapi tekanan besar untuk menyuntikkan biaya segar demi menjaga aliran pembelian utang negara.

Vice President dan Chief Financial Officer Sberbank, Taras Skvortsov, mengungkapkan bahwa penarikan duit tunai dari sistem perbankan telah mencapai sekitar 2 triliun rubel (Rp378 triliun) sejak awal tahun. Tingginya nomor penarikan ini menciptakan guncangan dan kondisi kekurangan likuiditas nan parah di sektor perbankan.

"Saat ini, perbankan hanya mempunyai biaya nan cukup untuk disalurkan kepada pelanggan-itu adalah upaya inti mereka. Anda dapat membeli obligasi OFZ, terutama tanpa premi nan signifikan, ketika Anda mempunyai likuiditas persediaan dan percaya bahwa likuiditas itu bakal tetap tersedia. Namun saat ini, situasinya justru sebaliknya," ujar Skvortsov dikutip The Moscow Times, Senin (3/8/2026).

OFZ sendiri merupakan obligasi pemerintah berdenominasi rubel nan diterbitkan secara resmi oleh Kementerian Keuangan untuk membiayai pengeluaran dan operasional negara.

Anggaran federal Rusia tercatat mengalami defisit nan membengkak hingga 5,7 triliun rubel (Rp 1.077 triliun) pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini melonjak tajam di tengah pengeluaran pertahanan dan militer nan jauh lebih tinggi dari rencana awal anggaran.

Laporan Bloomberg, sebagaimana dikutip dari The Moscow Times, pada bulan Juni nan berasal dari pihak internal, pengeluaran Rusia nan berangkaian dengan perang berpotensi melampaui jumlah nan dianggarkan tahun ini dengan selisih 4 triliun hingga 5 triliun rubel (Rp756 triliun hingga Rp945 triliun). Pembengkakan biaya operasional militer ini bakal memaksa Kementerian Keuangan Rusia untuk segera mencari tambahan biaya darurat sebesar 2 triliun hingga 3 triliun rubel (Rp378 triliun hingga Rp567 triliun).

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya