ilustrasi pembangunan.(MI)
BADAN Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) berupaya mempererat koordinasi dengan intelijen penegakan norma untuk memperkuat pengawasan pembangunan nasional. Sinergi tersebut dinilai krusial agar beragam program pemerintah dapat terlaksana secara efektif, sesuai target, serta mendukung pencapaian Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Kepala Bappisus Aris Marsudiyanto menyampaikan perihal itu dalam Konsolidasi/Forum Group Discussion (FGD) Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Tahun 2026 di Jakarta, Senin (10/8). Forum tersebut mengusung tema Optimalisasi Peran Intelijen Penegakan Hukum sebagai Supporting System dalam Pelaksanaan Asta Cita Presiden.
Aris menjelaskan keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari terealisasinya beragam proyek alias program pemerintah. Ukuran lainnya adalah sejauh mana kebijakan nan dijalankan bisa menghasilkan akibat dan faedah nan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, intelijen penegakan norma mempunyai peran krusial sebagai supporting system. Fungsi tersebut mencakup penyediaan info strategis, pemetaan perkembangan situasi, pengenalan potensi ancaman, hingga pemberian perspektif kewaspadaan terhadap faktor-faktor nan dapat menghalang pencapaian sasaran pembangunan.
Di sisi lain, Bappisus bekerja memberikan support kepada Presiden melalui pengawasan, pengendalian, pemantauan, serta penelusuran terhadap beragam program dan aktivitas pembangunan. Lembaga tersebut juga berkedudukan mengidentifikasi persoalan maupun hambatan teknis serta mendorong langkah penyelesaian nan dibutuhkan.
"Pengendalian pembangunan memerlukan info nan utuh, cepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, sinergi antara Bappisus dengan intelijen penegakan norma menjadi krusial untuk membangun early warning system terhadap potensi halangan pembangunan sekaligus memastikan setiap persoalan dapat ditangani secara tepat dan terukur," ujar Aris.
Menurutnya, kerja sama antarinstansi tidak semestinya hanya dimanfaatkan untuk saling berganti informasi. Lebih jauh, koordinasi tersebut kudu bisa menjadi fondasi dalam meningkatkan ketepatan pemerintah ketika menentukan kebijakan dan mengambil keputusan.
Bappisus menilai keberhasilan program pembangunan sangat berjuntai pada kecepatan pemerintah dalam mengenali persoalan. Beragam kendala, mulai dari aspek teknis, administrasi, tata kelola, hingga masalah nan berpotensi masuk ke ranah hukum, perlu dipetakan sejak awal.
Dengan pemetaan nan menyeluruh, pemerintah dapat segera mengambil langkah perbaikan sebelum masalah tersebut memberikan akibat nan lebih besar terhadap sasaran pembangunan.
Dalam forum itu pula Aris menegaskan, tugas pengendalian pembangunan tidak berhujung setelah suatu persoalan ditemukan. Hasil pengawasan kudu dilanjutkan dengan penyusunan rekomendasi serta solusi nan bisa segera diterapkan.
Hal itu sejalan dengan tugas Bappisus dalam membantu Presiden melakukan pengawasan, pengendalian, pemantauan, dan penelusuran terhadap penyelenggaraan pembangunan. Bappisus juga menjalankan kegunaan identifikasi serta investigasi atas hal-hal khusus, beragam persoalan, dan halangan teknis dalam penyelenggaraan program pembangunan.
Fungsi tersebut turut mencakup supervisi, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan. Dengan cakupan itu, koordinasi antara Bappisus dan Intelijen Kejaksaan diharapkan bisa menciptakan sistem info pembangunan nan lebih sigap merespons beragam perkembangan, tanpa mengesampingkan pemisah kewenangan masing-masing institusi.
"Kita mau membangun pola kerja nan tidak menunggu persoalan menjadi besar. Informasi kudu menjadi dasar untuk membaca risiko, akibat menjadi dasar untuk melakukan mitigasi, dan mitigasi kudu bermuara pada percepatan serta keberhasilan pembangunan," tutur Aris.
Lebih lanjut, Aris mengatakan, makna kemerdekaan tidak berakhir pada catatan sejarah. Kemerdekaan juga membawa tanggung jawab bagi negara untuk memastikan pembangunan betul-betul menghasilkan faedah bagi seluruh lapisan masyarakat.
Penguatan hubungan kerja antara intelijen penegakan norma dan kegunaan pengendalian pembangunan menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan perihal tersebut. Kedaulatan memerlukan tata kelola pemerintahan nan kokoh, keadilan memerlukan program nan tepat sasaran, sementara kemakmuran memerlukan pengelolaan sumber daya negara nan efektif.
"Semangat kemerdekaan kudu kita terjemahkan ke dalam kerja nyata negara. Indonesia nan berdaulat, adil, dan makmur memerlukan pembangunan nan dikawal, dikendalikan, dan dipastikan melangkah sesuai dengan tujuan nasional. Di situlah pentingnya kerjasama dan sinergi antarlembaga," pungkas Aris. (Mir/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·