ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNN Indonesia --
Bek timnas Inggris, Jarell Quansah, mengalami nasib berbeda dengan pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun, soal kartu merah di Piala Dunia 2026.
Quansah terpaksa menerima realita pahit usai dilarang bertanding dalam dua laga beruntun setelah mendapat kartu merah kontra Meksiko di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Dengan hukuman itu, Quansah tidak bisa berkompetensi saat The Three Lions menghadapi Norwegia pada babak perempat final. Kemudian jika Inggris melaju ke semifinal, bek 23 tahun itu juga tak boleh merumput.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Quansah dinyatakan telah melanggar pasal 14 kode etik FIFA, nan menyatakan bahwa pemain bakal mendapatkan larangan bermain dua pertandingan untuk pelanggaran serius. Inggris tidak dapat mengusulkan banding atas keputusan tersebut," tulis Sky Sports.
Situasi ini dipandang merugikan Inggris jelang laga krusial musuh Norwegia. Tim didikan Thomas Tuchel pun krisis bek kanan lantaran Reece James sedang cedera.
Di sisi lain, perbedaan jalan cerita nampak pada timnas Amerika Serikat ketika Komite Disiplin FIFA menangguhkan kartu merah terhadap Folarin Balogun. Keputusan ini dirilis sebelum tim tuan rumah menghadapi Belgia pada laga 16 besar Piala Dunia 2026.
Balogun mendapat kartu merah ketika menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Namun lantaran hukuman tersebut ditangguhkan, pemain 25 tahun itu tetap merumput meski pada akhirnya AS babak belur dengan skor 1-4 kontra Belgia.
Satu perihal jadi sorotan publik adalah pengakuan Presiden AS, Donald Trump menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino. Dalam obrolan itu ditengarai berangkaian dengan situasi skuad The Yanks.
Infantino kemudian membenarkan obrolan dengan Donald Trump. Namun demikian, dia berkilah perbincangan itu berkarakter normatif sama halnya dengan pembicaraan berbareng pemimpin negara lain.
(ikw/nva)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
2









English (US) ·
Indonesian (ID) ·