Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) mempercepat proses pemulihan operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Caving (GBC) pasca kejadian longsor material basah pada September 2025 lalu. Perusahaan menerapkan penemuan dan pembangunan prasarana drainase raksasa untuk mengamankan area kerja sekaligus mengembalikan kapabilitas produksi secara bertahap.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas memaparkan upaya pemulihan dilakukan salah satunya melalui pengerjaan teknis pada pengeluaran 800.000 ton material lumpur basah serta pembangunan sistem pengaliran air untuk mencegah terjadinya kejadian serupa.
"Puji Tuhan alhamdulillah sudah capai 84% pengeluaran material itu dan juga perbaikan-perbaikan sudah dilakukan dan sekarang kita sedang ramp up production," ujar Tony di Tembagapura, Papua Tengah, dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Senin (24/8/2026).
Langkah utama dalam mitigasi tersebut mencakup pembangunan drift alias saluran air pembuangan setinggi 300 meter nan menghubungkan tambang bawah tanah dengan bagian bawah tambang terbuka (bottom pit). Sistem itu berfaedah untuk mengalirkan akumulasi air nan menjadi penyebab utama meluncurnya material basah ke area produksi bawah tanah.
"Jadi rencana bakal ada sekitar 12 sampai 14 drift nan bakal kita bangun sekarang udah ada empat empat nan sudah berfaedah dan bakal kita terus lakukan sampai jumlahnya cukup," jelasnya.
Selain saluran pembuangan, perusahaan juga membangun dua unit terowongan sepanjang 1,5 kilometer nan mengelilingi persediaan bijih di bawah tanah. Fasilitas tersebut didesain dengan diameter 5x6 meter untuk memastikan lumpur dan air material basah dapat dialirkan langsung menuju saluran pembuangan utama.
"Terowongan itu bakal selesai di akhir 2027 dan sling itu juga kira-kira di waktu nan nyaris berbarengan dengan ini menggantung sling dengan pompa gantung gitu ya lantaran kan di wilayah di bawah situ kan nggak bisa ada orang kerja. Itu udah wilayah ancaman gitu kan," imbuhnya.
Pengerjaan di area berisiko tinggi tersebut dilakukan dengan memasang sistem kabel baja (sling) sepanjang 3 kilometer di tambang terbuka untuk menggantung pompa penyedot material basah. Melalui kombinasi teknologi ini, manajemen optimis pemulihan operasional penuh dapat tercapai sesuai sasaran pada penghujung tahun 2027.
"Tiga program ini adalah nan kita sedang rencanakan saat ini," tandasnya.
Target pulih 100% akhir 2027
Perusahaan menargetkan produksi tambang bawah tanah perusahaan bisa mencapai 100% dari produksi normal pada akhir 2027 mendatang.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas membeberkan pada akhir 2026 ini sasaran produksi perusahaan mencapai level 65% dari produksi normal. Saat ini pihaknya terus bekerja keras melakukan modifikasi peralatan guna mempercepat normalisasi operasional di area GBC.
"Ke depannya kapabilitas produksi diharapkan dapat meningkat hingga 75% pada semester satu 2027 dan secara berjenjang mendekati kapabilitas penuh pada akhir tahun 2027," katanya dalam sambutan upacara HUT ke-81 RI, di Tembagapura, Papua Tengah, dikutip Selasa (18/8/2026).
Hingga akhir semester kedua tahun 2026 ini, PTFI menargetkan tingkat kapabilitas produksi dapat volume 800 juta pon tembaga dan 700.000 ons emas.
Menurutnya, proses pemulihan tambang GBC cukup menantang lantaran perusahaan kudu memindahkan sekitar 800.000 ton material lumpur basah nan menimbun sejumlah prasarana dan perangkat berat di area tambang bawah tanah.
"Tahap pemulihan ini terus kita lakukan, ada beberapa modifikasi perangkat lantaran rupanya bijihnya lebih basah daripada nan kita perkirakan sebelumnya. Sehingga peralatan perlu dimodifikasi sedikit tapi sekarang sudah ongoing, semua sesuai sasaran 65% tahun ini," katanya di sela acara.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·