Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto(Dok BNPB)
JUMLAH korban tewas akibat gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menembus 100 orang, Senin (24/8). Sebagian korban sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di akomodasi kesehatan, namun akhirnya tidak sukses diselamatkan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, pada hari pertama dan kedua pascagempa tercatat 48 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut kemudian bertambah setelah korban luka berat nan dirawat meninggal dunia.
“Kemudian, untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan bahwa nan meninggal 100 ini adalah korban gempa nan semula luka berat, nan dirawat di akomodasi kesehatan, ini tidak sukses diselamatkan, sehingga nan semula di hari pertama, hari kedua, ada 48 nan meninggal dunia, nomor per hari ini total menjadi 100 nan meninggal dunia," ujarnya.
Selain itu, BNPB mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 orang mengungsi.
Kerusakan rumah sementara tercatat 73.818 unit, terdiri atas 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rumah rusak sedang, dan 32.979 rumah rusak ringan. Sementara itu, akomodasi umum nan rusak mencapai 1.915 unit, meliputi sekolah, tempat ibadah, instansi pemerintahan, serta prasarana lainnya.
Suharyanto menegaskan info tersebut tetap berkarakter sementara dan bakal terus diperbarui seiring proses pendataan di lapangan. Pendataan dilakukan secara berjenjang dari tingkat kampung, rukun tetangga, desa, kecamatan, hingga kabupaten dan kemudian dihimpun di tingkat nasional.
6.409 Kali Gempa Susulan
Terkait aktivitas gempa, Suharyanto mengatakan, sesuai laporan BMKG hingga Senin pagi telah terjadi 6.409 kali gempa. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan nan terkecil 1,1.
Dari jumlah tersebut, tercatat 33 kali gempa bermagnitudo 5 alias lebih, sedangkan gempa nan dirasakan masyarakat mencapai 139 kali. Aktivitas gempa susulan tersebut membikin sebagian masyarakat tetap memilih mengungsi di luar rumah meskipun rumah mereka tidak terdampak alias hanya mengalami kerusakan ringan.
“Ini mengakibatkan sampai hari ke-8 terjadinya gempa Flores ini, masyarakat tetap banyak nan takut, sehingga tetap mengungsi di luar rumah, meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak alias rusak ringan," ujarnya.
Menurut Sunaryanto, dalam dua hari terakhir aktivitas gempa mulai menurun. Dalam 24 jam terakhir, tercatat hanya satu gempa nan dirasakan masyarakat.
Meski demikian, berasas penjelasan BMKG, lanjutnya, aktivitas gempa susulan tetap dapat berjalan hingga tiga alias empat minggu ke depan sebelum kondisi diperkirakan semakin stabil. (PO/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·