Bidik Pasar Properti Australia, Pengusaha RI Ini Beberkan Alasannya

59 menit yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah geliat pasar properti Indonesia, seorang pengusaha asal Indonesia justru memilih membangun upaya pengembangan properti di Sydney, Australia. 

Chief Executive Officer Capital Value International Group (CVIG), Chandra Leonardi mengatakan keputusannya mengembangkan upaya properti di Sydney salah satu pertimbangan utamanya lantaran letak pengembangan properti.

Dengan status Sydney sebagai kota global, permintaan terhadap properti tidak hanya berjuntai pada masyarakat lokal, tetapi juga datang dari penanammodal dan pendatang dari beragam negara.

"Ketika kita bikin upaya paling krusial itu sebetulnya demand-nya. Kalau kita play the game nan jelas demand-nya tinggi, buat saya itu lebih less risk," katanya di Gunawarman, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

Meski demikian, memilih Sydney bukan berfaedah upaya pengembangan properti menjadi lebih mudah. Chandra justru mengungkapkan proses perizinan pembangunan di kota tersebut sangat ketat dan kompleks. Untuk mendapatkan Development Application alias DA Approval dalam proyek terbaru CVIG di Roselands, prosesnya bisa menyantap waktu sekitar 18 hingga 24 bulan.

"Kita kerjasama kurang lebih 16 konsultan. Fungsinya berbeda-beda untuk bikin report, make sure semuanya sesuai Australian Building Standard," kata Chandra.

Ia pun menjelaskan lebih memilih untuk membangun rumah tapak. Meski memang tidak selalu lebih mudah, namun dari sisi waktu konstruksi, pembangunan rumah tapak dapat diselesaikan lebih sigap dibandingkan proyek high-rise.

"Kalau misalkan bangun high-rise itu kan biasa 24 sampai 30 bulan. Kalau landed itu antara 12 sampai 16 bulan," kata Chandra.

Proyek Roselands tersebut juga sempat menghadapi keberatan dari pemerintah lokal alias council. Keberatan nan dihadapi dalam proyek tersebut sangat detail, mulai dari lebar akses jalan hingga manajemen lampau lintas kendaraan. Bahkan keberadaan pohon di letak pembangunan kudu dianalisis secara khusus.

Proyek terbaru CVIG di Roselands berdiri di atas lahan nyaris 2.000 meter persegi nan merupakan hasil penggabungan dua properti. Di atas lahan tersebut, perusahaan berencana membangun tujuh unit townhouse. Harga rata-rata townhouse dalam proyek tersebut diperkirakan sekitar Rp30 miliar per unit.

Dari tujuh unit nan bakal dibangun, empat unit rencananya bakal dijual, sementara tiga lainnya bakal ditahan sebagai bagian dari portofolio investasi perusahaan.

"Kita pribadi pun kita bakal simpan. Karena ini bakal menjadi portofolio kita," katanya.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya